JAKARTA - Pemerintah resmi menghentikan insentif untuk mobil listrik model completely built up (CBU) mulai Januari 2026. Keputusan ini membuat setiap produsen wajib merakit mobil listrik secara lokal dan memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen.
Kebijakan ini berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada model impor yang belum memenuhi persyaratan TKDN. Namun, sebagian pabrikan masih mempertahankan harga lama untuk model tertentu agar tetap kompetitif di pasaran.
Perubahan Harga Mobil Listrik di Berbagai Merek
Geely Auto Indonesia baru saja mengumumkan harga resmi Geely EX2 per Januari 2026. Varian EX2 Pro dibanderol Rp 255 juta dan EX2 Max Rp 285 juta, dengan harga khusus untuk 2.000 pemesan pertama masing-masing Rp 229,9 juta dan Rp 259,9 juta sampai 15 Februari 2026.
Wuling Motors menaikkan harga mobil listriknya hingga Rp 30 juta–Rp 40 juta. Kini tidak ada lagi model Wuling dengan harga di bawah Rp 200 juta, sementara model Cloud EV Pro dijual Rp 443 juta dari sebelumnya Rp 404 juta.
Kia EV9 GT-Line dijual Rp 1,985 miliar dan varian EV9 Earth Rp 1,568 miliar. Sementara model lain, seperti Hyundai Ioniq 5, harganya bervariasi mulai Rp 809 juta hingga Rp 1,3 miliar tergantung varian dan jarak tempuh baterai.
Dampak Kebijakan TKDN dan Perakitan Lokal
Setiap produsen yang mengimpor hingga 10.000 unit wajib merakit mobil listrik secara lokal dengan jumlah yang sama. Hal ini menjadi faktor utama yang mendorong harga naik, karena biaya produksi lokal lebih tinggi dibandingkan harga impor CBU sebelumnya.
Model yang saat ini dijual dengan harga kompetitif tetap berpotensi naik puluhan juta rupiah meski sudah memenuhi persyaratan TKDN. Kenaikan ini juga bergantung pada jumlah unit yang tersedia dan strategi harga masing-masing produsen.
Update Harga Lengkap Mobil Listrik Januari 2026
Beberapa model Aion seperti Y Plus Exclusive dipatok Rp 419 juta dan Y Plus Premium Rp 479 juta. Varian V Exclusive Rp 449 juta, V Luxury Rp 489 juta, UT Standard Rp 325 juta, dan UT Premium Rp 363 juta.
Hyptec HT Premium dijual Rp 691 juta, sedangkan HT Ultra Rp 843,5 juta. Aletra L8 EV dibanderol Rp 488 juta dan L8 EV Aero Line Rp 493 juta.
BMW memiliki jajaran mobil listrik mulai dari i4 eDrive35 Rp 1,841 miliar hingga i7 xDrive60 Gran Lusso Two-tone Rp 3,576 miliar. Model i5 eDrive40 Touring dijual Rp 2,275 miliar dan iX xDrive50 Rp 2,719 miliar.
BYD menawarkan Atto 1 Dynamic Rp 195 juta dan Atto 1 Premium Rp 235 juta. Dolphin Premium dijual Rp 429 juta, sedangkan Atto 3 Advanced Rp 390 juta.
Wuling Air ev Pro kini Rp 307 juta dari sebelumnya Rp 252 juta. Model Air ev Lite Standard Range naik dari Rp 184 juta menjadi Rp 214 juta, dan Air ev Lite Long Range dari Rp 195 juta menjadi Rp 251 juta.
Konsumen juga bisa menemukan model MG seperti MG 4 EV Ignite Rp 299 juta dan MG 4 EV Magnify i-Smart Rp 405 juta. MG New ZS EV Magnify i-Smart dijual Rp 417,5 juta untuk versi terbaru.
MINI Electric dijual Rp 1,029 miliar dan MINI Cooper SE Rp 1,117 miliar. Model MINI Cooper John Cooper Works Electric Rp 1,283 miliar dan MINI Countryman SE All4 Rp 1,472 miliar.
Tesla Model 3 Standard Range dijual Rp 1,5 miliar dan Model Y Long Range Rp 2 miliar. VinFast VF5 berlangganan baterai Rp 212 juta, sementara versi termasuk baterai Rp 272,35 juta.
Hyundai Kona kini dijual mulai Rp 565,25 juta untuk varian Style Standard Range hingga Rp 689,55 juta untuk varian N Line. Sementara Ioniq 5 Signature Long Range mencapai Rp 925,6 juta.
Porsche Taycan dipasarkan mulai Rp 4,2 miliar untuk varian standar hingga Rp 5 miliar untuk Taycan 4S Cross Turismo. EQS 450+ Edition One dari Mercedes-Benz dijual Rp 3,995 miliar.
Renault Zoe dijual Rp 888 juta dan Megane E-Tech Rp 1,375 miliar. DFSK Gelora E BV dijual Rp 350 juta dan Gelora E MB Rp 399 juta.
Volkswagen ID. Buzz Business Edition dijual Rp 1,575 miliar. Xpeng X9 Long Range Pro Plus kini mencapai Rp 1,099 miliar, sedangkan Xpeng G6 Pro Rp 619 juta.
Kesimpulan dan Implikasi untuk Konsumen
Penghentian insentif CBU dan penerapan TKDN minimal 40 persen mendorong produsen menyesuaikan strategi harga. Konsumen yang ingin membeli mobil listrik perlu memantau harga terbaru agar tidak kaget dengan kenaikan.
Beberapa produsen masih menawarkan harga khusus untuk pemesan awal agar tetap kompetitif. Hal ini menjadi kesempatan bagi pembeli cerdas untuk mendapatkan harga lebih rendah sebelum penyesuaian umum berlaku.
Kebijakan ini menunjukkan arah pemerintah mendorong produksi lokal mobil listrik. Dampaknya, harga mobil listrik secara umum cenderung naik, tetapi sekaligus memperkuat industri otomotif dalam negeri.
Meski ada kenaikan harga, sebagian besar model tetap kompetitif dibandingkan tahun lalu. Konsumen dianjurkan membandingkan berbagai merek, varian, dan promo untuk mendapatkan penawaran terbaik.
Dengan banyaknya pilihan merek dan varian, pembeli memiliki kesempatan memilih mobil listrik sesuai kebutuhan dan anggaran. Strategi pembelian yang tepat membantu mengurangi dampak kenaikan harga yang terjadi di awal 2026.
Kebijakan TKDN dan perakitan lokal juga menandai fase baru industri mobil listrik di Indonesia. Produsen yang patuh terhadap aturan ini akan lebih siap menghadapi persaingan jangka panjang dan mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik.