Perkuat Energi Nasional, BKPM Percepat Proyek Bioetanol

Rabu, 10 Juni 2026 | 23:27:31 WIB
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu. (Sumber : NET)

JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sedang mengakselerasi pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi di Provinsi Lampung.

Langkah ini diambil untuk mendukung hilirisasi di sektor perkebunan serta memperkokoh ketahanan energi di Indonesia.

Melalui rilis resmi di Jakarta pada Rabu (10/6/2026), Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa proyek bioetanol terintegrasi ini diproyeksikan menjadi percontohan pengembangan energi terbarukan yang memanfaatkan sumber daya domestik dan sektor pertanian.

Todotua menegaskan komitmen tersebut saat memimpin rapat koordinasi dan peninjauan lapangan di provinsi tersebut bersama Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), serta pihak-pihak terkait lainnya pada Selasa (9/6).

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Joint Declaration mengenai Kolaborasi Pembangunan Ekosistem Bioetanol yang melibatkan Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI).

Deklarasi ini menjadi fondasi kerja sama dalam membangun rantai pasok bahan baku, fasilitas produksi, kemitraan dengan sektor pertanian, inovasi teknologi, serta percepatan investasi untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Todotua menyatakan bahwa Lampung dipilih karena keunggulan infrastruktur serta ketersediaan bahan baku yang memadai.

"Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional," tegas Todotua.

Dalam kunjungan ke Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, dan Desa Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, tim meninjau kesiapan area yang direncanakan sebagai kawasan pengembangan.

Hasil peninjauan menunjukkan Lampung memiliki potensi bahan baku yang kuat, mulai dari molases tebu, sorgum, hingga limbah biomassa untuk bioetanol generasi pertama dan kedua.

Selain keunggulan geografis dan logistik, proyek ini menciptakan peluang kemitraan antara industri dan petani lokal melalui budidaya sorgum sebagai bahan baku tambahan.

Pemerintah daerah setempat menyatakan dukungan penuh untuk mempercepat realisasi investasi ini.

Proyek bioetanol ini nantinya menerapkan konsep multi-feedstock dengan memanfaatkan molases, sorgum, dan limbah biomassa.

Pada tahap awal, proyek percontohan melibatkan penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare serta pembangunan fasilitas berkapasitas 60 kiloliter per tahun.

Sementara di fase komersial, direncanakan penanaman sorgum varietas Enryu seluas 6.000 hektare dengan pembangunan pabrik berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun.

Pembangunan proyek ditargetkan dimulai pada kuartal III 2027 dan beroperasi pada kuartal IV 2028.

Sebagai tindak lanjut, seluruh pihak akan mempercepat studi kelayakan bersama, perencanaan proyek, pengembangan budidaya percontohan, serta penyelesaian skema pembiayaan guna memastikan kesiapan implementasi.

"Yang ingin kami bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kami maksimalkan. Karena itu mari kami mulai saja. Yang penting proyek ini berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional," pungkas Todotua.

Terkini