Ekspansi Bioetanol, MOLI Alokasikan Belanja Modal Rp350 Miliar

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:53:32 WIB
PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI). (Sumber : NET)

JAKARTA - PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI), produsen etanol dan karbondioksida cair, menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sejumlah Rp350 miliar untuk tahun 2026.

Langkah strategis ini diambil guna memperbesar kapasitas produksi dalam menyambut peluang pertumbuhan di industri bioetanol, sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap implementasi program pemerintah terkait campuran bahan bakar E5 dan E10.

“Guna mengeksekusi seluruh rencana ekspansi tersebut, MOLI telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp350 miliar pada tahun 2026,” ujar Direktur Utama MOLI Jose G. Tan dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Pihak perusahaan menyoroti agenda pemerintah untuk menjalankan mandat pencampuran etanol ke dalam bensin secara bertahap, mulai dari E5 per Juli 2026 dan meningkat menjadi E10 pada tahun 2028. Kebijakan ini diperkirakan memicu kebutuhan fuel-grade ethanol hingga mencapai 1,2 juta kiloliter pada 2030.

Sejalan dengan itu, Jose memaparkan bahwa dana capex akan diinvestasikan untuk pengadaan mesin distilasi baru, penambahan lini produksi liquid CO2, instalasi boiler, serta berbagai perangkat pendukung operasional lainnya.

Selanjutnya, alokasi tersebut bertujuan memperbesar kapasitas produksi, menciptakan efisiensi proses, menekan biaya operasional, serta mengembangkan produk etanol yang memiliki nilai tambah lebih besar.

“Investasi ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas produksi, mendorong efisiensi proses dan biaya produksi, serta membuka peluang pengembangan produk etanol,” ujar Jose.

Untuk mendukung strategi tersebut, pihak perseroan turut fokus mengembangkan produk baru melalui riset pasar serta kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D). Sementara itu, kenaikan biaya energi akan diantisipasi dengan investasi pada teknologi dan peralatan produksi yang lebih hemat.

Di sisi lain, perusahaan mengakui adanya tantangan di industri etanol nasional, yakni kelebihan pasokan etanol non-fuel grade di pasar domestik, kendali regulasi ekspor bahan baku yang belum optimal, serta kenaikan biaya energi.

“Di tengah kondisi oversupply di pasar domestik, perseroan memilih untuk berfokus pada segmen pasar khusus (niche market), yang membutuhkan produk berkualitas lebih tinggi dan menawarkan margin yang lebih baik, terutama di pasar internasional,” ujar Jose.

Menutup tahun 2026, perseroan tetap menjaga optimisme terhadap prospek bisnisnya, meski harus menghadapi tantangan berupa pelemahan harga etanol serta dampak ekonomi akibat konflik yang masih terjadi di Timur Tengah.

Terkini