GAC Mulai Produksi AirCab, Taksi Terbang Otonom Seharga Rp4,5 Miliar

Kamis, 11 Juni 2026 | 04:15:02 WIB
Guangzhou Automobile Group (GAC). (Sumber : NET)

JAKARTA – Raksasa otomotif asal Tiongkok, Guangzhou Automobile Group (GAC), kini melebarkan sayap ke industri penerbangan dengan memproduksi pesawat electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) bernama AirCab.

Dikutip dari laman Carscoops pada Rabu waktu setempat, eVTOL yang dikembangkan di bawah merek mobilitas Govy tersebut diproduksi secara terbatas, yakni sekitar 100 unit per tahun. 

AirCab telah mengantongi seluruh sertifikasi yang diperlukan untuk operasional komersial serta sukses melewati uji tabrak penuh, menjadikannya produk yang benar-benar siap pakai, bukan sekadar konsep atau prototipe.

Struktur badan pesawat ini menggunakan material komposit serat karbon yang ringan. Terdapat enam lengan yang memanjang dari kabin, dengan masing-masing lengan membawa sepasang baling-baling untuk menghasilkan daya angkat. 

Meski detail teknis masih terbatas, GAC menyebut AirCab ditenagai baterai silinder berdensitas tinggi yang hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk pengisian daya penuh. Walaupun informasi mengenai jarak tempuh belum dirilis, jangkauannya diperkirakan terbatas.

Di saat banyak perusahaan tengah agresif mengembangkan eVTOL untuk mobilitas massal, GAC memiliki ambisi yang lebih spesifik untuk AirCab. Untuk saat ini, pesawat ini ditargetkan bagi operator pariwisata yang menyediakan layanan wisata udara. 

Gambaran penggunaan tersebut sempat terlihat tahun lalu, ketika GAC menuntaskan beberapa penerbangan demonstrasi di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau.

Terkait fitur operasional, AirCab sudah mendukung sistem penerbangan otonom Level 4. Artinya, kendaraan udara ini dapat terbang dan berjelajah dengan sendirinya tanpa memerlukan awak atau pilot.

Dengan teknologi tersebut, AirCab dibanderol mulai dari 1,68 juta yuan, atau setara dengan Rp4,5 miliar. Mengingat tingginya harga tersebut, operator pariwisata yang mengoperasikan unit ini kemungkinan besar akan menetapkan tarif yang sangat mahal, bahkan untuk rute jarak pendek.

Terkini