JAKARTA – Istilah angin duduk telah lama akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit yang keliru menganggap kondisi ini setara dengan masuk angin biasa.
Dalam sesi edukasi media yang diselenggarakan oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di Noble House, Jakarta, Selasa (09/06), dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, memberikan klarifikasi mengenai berbagai mitos dan fakta seputar angin duduk.
Mitos Seputar Angin Duduk
Anggapan umum bahwa angin duduk disebabkan oleh telat makan, makan berlebihan, atau sekadar masuk angin adalah keliru. Menurut dr. Febtusia, kondisi ini berkaitan erat dengan gangguan pasokan darah ke jantung.
"Ini adalah suatu mitos," tutur dr. Febtusia.
Selain itu, praktik kerokan saat merasa tidak enak badan juga tidak bisa mengatasi masalah ini. Rasa lega yang muncul hanyalah efek sementara dari kehangatan balsam.
"Yang membuat nyaman itu adalah balsamnya, efek hangatnya. Pada saat pembuluh darah melebar, memang terasa lebih nyaman. Tapi itu short effect, tidak long-term effect," ujarnya.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa angin duduk hanya menyerang lansia. Padahal, angina pektoris bisa dialami usia muda dengan faktor risiko tertentu.
"Ada pasien saya umur 28 tahun," kata dr. Febtusia.
Ia juga menegaskan bahwa gejala tidak selalu berupa nyeri dada khas, terutama pada perempuan.
"Pada perempuan itu, yang nyeri dada khas hanya sekitar 23%," ujar dr. Febtusia.
Masyarakat diminta waspada terhadap perubahan fisik seperti sesak saat naik tangga atau cepat lelah. Terakhir, keluhan di ulu hati yang mirip sakit maag sering membuat pasien terlambat sadar akan gangguan jantungnya, sehingga pemeriksaan medical check up (MCU) dengan treadmill test sangat disarankan untuk deteksi dini.
Fakta Medis Angin Duduk
Secara medis, istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti menyempit atau mencekik.
"Angina itu adalah suatu istilah dari bahasa Yunani kuno. Angina itu dari asal kata menyempit ataupun mencekik," jelasnya.
Dokter menduga istilah "angin duduk" muncul karena penderita sering duduk untuk mencari posisi napas yang lebih nyaman. Sementara "pektoris" merujuk pada area dada.
"Pektor, pektoris itu adalah dada. Jadi otot dada itu namanya otot pektoralis," tutur dr. Febtusia.
Angina pektoris terjadi karena jantung kekurangan oksigen, layaknya selang air yang tersumbat sebagian. Gejalanya sering muncul saat beraktivitas atau stres dan mereda saat beristirahat. Selain itu, merokok merupakan faktor risiko utama yang merusak arteri.
"Efek dari merokok ini enggak ada yang sehari, dua hari," seru dr. Febtusia.
Risiko juga dipicu oleh kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, dan gaya hidup minim gerak. Namun, kondisi ini bisa ditangani dengan perubahan gaya hidup, obat-obatan, hingga tindakan medis jika dideteksi sejak dini.
"Jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak," ujarnya.