Atasi Kekeringan, BNPB Pasok Ribuan Liter Air di Jabar dan Jateng

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:07:31 WIB
ribuan liter air bersih didistribusikan ke sejumlah desa di Jawa Tengah [FOTO : NET].

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membenarkan bahwa ribuan liter air bersih telah disalurkan ke beberapa desa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat yang mulai dilanda bencana kekeringan pada fase transisi musim kemarau.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa pengiriman pasokan air bersih ini dipusatkan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, serta Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi di Jawa Barat.

"Musim kemarau yang mulai terjadi di wilayah tersebut menyebabkan debit air dari sumber-sumber alami berkurang dan tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat sehari-hari," kata dia.

Abdul menjelaskan bahwa pengiriman pasokan logistik air dalam jumlah paling besar salah satunya dikirim ke Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, yang dilaporkan nihil curah hujan selama hampir satu bulan belakangan.

Di area hilir Kabupaten Bekasi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyalurkan sekurangnya 10.000 liter air bersih demi mencukupi kebutuhan domestik dari 30 kepala keluarga (KK) yang mengalami krisis air.

Sementara itu, pasokan air dalam volume ribuan liter selanjutnya digelontorkan oleh BPBD Kabupaten Bogor menyusul menyusutnya debit sumber mata air permukaan di daerah hulu yang biasanya diandalkan oleh warga setempat.

Abdul menuturkan, untuk area Kabupaten Bogor, armada truk tangki telah menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih secara berkala kepada sekurang-kurangnya 127 kepala keluarga di wilayah Desa Gunung Sari, Kecamatan Citeureup.

Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, tindakan kedaruratan serupa juga diterapkan lewat penyaluran 4.000 liter air bersih oleh BPBD Kabupaten Cilacap bersama jajaran aparat kewilayahan guna menolong 40 kepala keluarga di Desa Kedungbenda, Kecamatan Nusawungu.

Menanggapi fenomena tersebut, BNPB pun mengimbau warga beserta pemerintah daerah untuk mengupayakan langkah-langkah mitigasi.

Menurut Abdul, tindakan itu misalnya dengan mendirikan sumur resapan dan menyediakan tandon air berkapasitas cukup sebagai cadangan air bersih. 

Di samping itu, warga juga bisa melakukan penampungan air hujan dengan menyiapkan drum atau wadah penampung yang dapat digunakan demi keperluan harian.

"Penghematan dan penggunaan air secara bijak sesuai kebutuhan," cetusnya.

Kondisi kekeringan ini sejalan dengan hasil pemutakhiran data BMKG yang mengabarkan hingga akhir Mei 2026, perluasan area kekeringan diawali pada 200 zona musim (11,83 persen daratan) yang terdeteksi melalui warna kecokelatan dalam peta sebaran iklim nasional.

Pergeseran zona kering ini diperkirakan akan melesat tajam pada bulan Juni ini dengan merambah 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan, yang meliputi DKI Jakarta bagian selatan, sebagian Pulau Jawa, sampai sebagian besar Pulau Kalimantan.

Ketika menginjak bulan Juli, pergerakan musim kemarau bakal kembali menyasar 66 zona musim lainnya yang mencakup Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.

Sebaliknya, BMKG menemukan adanya anomali lokal lantaran dampak topografi yang luas di tujuh zona musim (0,68 persen daratan) yang malahan bersifat atas normal atau cenderung lebih basah, yaitu di Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).

Terkini