Daftar Jurusan Kuliah yang Lulusannya Paling Terancam AI

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:39:02 WIB
WEF memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang akibat teknologi [FOTO : NET].

JAKARTA - World Economic Forum (WEF) memproyeksikan kurang lebih 92 juta lapangan kerja bakal lenyap dipicu oleh kemajuan teknologi hingga beberapa tahun mendatang. 

Pada waktu yang bersamaan, sekitar 78 juta bidang pekerjaan baru diperkirakan bakal lahir selaras dengan ekspansi ekonomi yang berbasis pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Disrupsi ini rupanya ikut membawa dampak bagi sektor pendidikan tinggi. Melansir laporan Forbes, terdapat deretan jurusan kuliah yang para lulusannya menghadapi risiko tertinggi terdampak AI lantaran mayoritas beban tugasnya kini mulai bisa dialihkan ke teknologi otomatisasi. 

Sektor universitas pun didesak untuk memodifikasi kurikulum mereka demi menjamin mahasiswa memperoleh keahlian yang tetap bernilai di bursa kerja.

1. Akuntansi 

Forbes menyatakan bahwa program studi akuntansi serta pembukuan konvensional menjadi salah satu yang sangat rawan terimbas AI. Berbagai beban kerja administratif sekaligus kalkulasi fundamental sekarang telah mampu diselesaikan oleh aplikasi berbasis kecerdasan buatan.

Para mahasiswa yang bergerak di sektor keuangan direkomendasikan untuk memperlebar ranah kompetensi mereka, misalnya dengan mempelajari penerapan AI bagi industri finansial atau mempertajam keahlian analisis serta strategi investasi yang tetap memerlukan penalaran manusiawi.

2. Komunikasi, Periklanan, dan Marketing 

Sektor komunikasi, periklanan, dan juga pemasaran turut menjumpai pergeseran masif imbas dari kecanggihan AI. Perangkat teknologi ini sekarang telah andal menyokong aktivitas produksi konten, perancangan strategi pemasaran, hingga perumusan rilis pers serta konten untuk media sosial.

Forbes berpandangan, institusi perguruan tinggi wajib memfasilitasi mahasiswa lewat kapasitas mengoperasikan AI secara imajinatif sekaligus etis. Kemahiran dalam menggunakan aneka instrumen layaknya HubSpot AI, SEMrush, ataupun Jasper AI dapat bertransformasi menjadi nilai plus di ranah profesional. Kendati demikian, sentuhan personal manusia tetap mutlak diperlukan demi memelihara identitas serta karakteristik dari suatu jenama.

3. Desain Grafis

 Program studi desain grafis pun masuk ke dalam jajaran sektor yang berpeluang besar terdampak ekspansi AI. 

Dewasa ini, beraneka macam platform desain memberikan kebebasan bagi para pengguna untuk merancang logo, gambar ilustrasi, hingga alat publikasi dalam sekejap tanpa dituntut menguasai keahlian desain yang mendalam.

Demi menjaga relevansinya, metode pendidikan desain dinilai harus lebih mengedepankan aspek strategi komunikasi visual, pemahaman psikologi konsumen, serta kapasitas berpikir imajinatif ketimbang sekadar keahlian teknis dalam memakai aplikasi desain.

Pendidikan Harus Beradaptasi

Presiden dan CEO DeVry University, Elise Awwad, menyatakan bahwa institusi perguruan tinggi saat ini memegang peranan krusial dalam membekali mahasiswa menyongsong era AI.

"Jika kampus tidak memprioritaskan pendidikan AI dan keadilan dalam penerapannya, mereka bukan hanya gagal mendidik mahasiswa, tetapi juga gagal mempersiapkan tenaga kerja masa depan," ucapnya, dilansir dari Forbes, Kamis (11/6/2026).

Awwad memaparkan bahwa DeVry University telah memadukan pembelajaran berbasis AI ke dalam beragam rumpun program studi. 

Kebijakan tersebut memicu rasio penuntasan kelas AI melonjak hingga 29% sepanjang satu tahun belakangan.

"Kami ingin para lulusan siap berinteraksi dengan teknologi ini sejak hari pertama mereka bekerja," tuturnya.

Ia mengimbuhkan, proses adaptasi dalam merespons evolusi AI tidak semata-mata menjadi beban bagi lembaga pendidikan saja. 

Sektor korporasi juga wajib memfasilitasi program pelatihan bagi para stafnya agar sanggup menyelaraskan diri dengan pergeseran kebutuhan di sektor industri.

Di samping itu, para pekerja dipacu untuk mendayagunakan aneka ragam platform edukasi digital semisal Coursera, LinkedIn Learning, dan Udacity demi meng-upgrade kompetensi yang sejalan dengan peta kebutuhan bursa kerja di masa depan.

Terkini