Kenali Ciri-Ciri Bos Toksik dan Cara Tepat Menghadapinya

Minggu, 14 Juni 2026 | 15:30:32 WIB
Ciri Atasan Toksik yang Merusak Mental dan Tips Mengatasinya [FOTO : NET].

JAKARTA - Memiliki atasan dengan perilaku buruk tentu menguras energi dan merusak kesejahteraan mental. Jika dibiarkan, lingkungan kerja yang tidak sehat ini berpotensi mengganggu kepuasan kerja hingga menghambat jenjang kariermu. Namun, menghadapi situasi ini butuh kejelian agar kamu tidak salah langkah. Kenali ragam ciri bos toksik dan cara tepat menghadapinya.

Ciri-ciri atasan toksik

Sikap yang sulit ditebak Menurut psikolog klinis dan profesor di Yeshiva University, Sabrina Romanoff, seorang atasan yang toksik akan memperlakukan bawahannya tergantung pada suasana hati mereka. Lebih lanjut, atasan yang bermasalah umumnya menunjukkan emosi yang tidak konsisten.

"Kamu mungkin merasa seperti sedang berjalan di atas cangkang telur atau terus-menerus mengamati suasana ruangan untuk melindungi diri dari sifat mereka yang mudah berubah," terang Romanoff, mengutip Real Simple, Minggu (14/6/2026). Akibat instruksi membingungkan, psikolog sekaligus terapis pernikahan dan keluarga, Patrice Le Goy menuturkan bahwa pencapaian kami seolah tidak pernah cukup. "Bos yang toksik dapat menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa diremehkan, cemas, atau tidak yakin dengan posisi mereka," ungkap dia.

Menyalahgunakan kekuasaan 

Konselor kesehatan mental berlisensi, Tracy Vadakumchery, mengungkapkan bahwa atasan seperti ini kerap menekan posisi bawahan demi dominasi. 

"Tanda bahaya lainnya adalah jika si bos berbicara negatif tentang rekan kerja lain kepadamu. Ini mungkin cara mereka memanfaatkan kekuasaan di tempat kerja," tutur dia. Hal ini membuat seseorang rentan merasa terkucilkan dan takut untuk bersuara.

Mengabaikan batasan pribadi 

Le Goy menuturkan, bos yang toksik kurang memiliki hormat terhadap waktu, batasan, beban kerja, atau kebutuhan kami sebagai manusia di luar pekerjaan.

 "Bos yang sehat mendukung staf mereka sambil menetapkan batasan dan ekspektasi yang sehat," tambah Vadakumchery. Sebaliknya, tanda bahaya adalah ketika bos melewati batasan ke dalam kehidupan pribadimu, dengan cara yang tidak relevan dengan pekerjaan yang ada.

Dampak punya atasan toksik bagi pekerja

Le Goy mengatakan, ketika seseorang dalam posisi berkuasa tidak dapat diprediksi, kritis, atau tidak aman secara emosional, kamu mungkin merasa sangat waspada atau terus-menerus gelisah. 

"Seiring waktu, kamu mungkin mengalami kecemasan, depresi, keraguan diri, harga diri rendah, atau rasa takut sebelum pergi bekerja," ucap dia.

Romanoff menjelaskan, perundungan di tempat kerja bisa sangat merusak karena tim kerja berfungsi seperti "keluarga kedua", di mana bos mengambil peran sebagai orangtua dan rekan kerja mengambil peran sebagai saudara kandung.

 Akibatnya, kamu mungkin bekerja dalam keadaan gelisah, atau lebih sering mengambil cuti kerja dari biasanya untuk menghindari interaksi yang sulit.

Tips menghadapi atasan toksik

Pertama, jangan ragukan perasaan sendiri. Le Goy menyarankan untuk meyakinkan diri bahwa sifat itu nyata dan kamu lebih dari sekadar lingkungan kerja saat ini. 

Kemudian, catat setiap insiden dengan rinci. Menurut Romanoff, catatan tertulis bisa bermanfaat untuk kasus pelecehan yang lebih besar.

 "Pada tingkat mikro, ini dapat membantu mempertahankan realitas dan memberikan bukti untuk mendukung perasaanmu yang diperlakukan buruk," tutur dia.

Lalu, batasi interaksi pada urusan profesional. Vadakumchery mengingatkan, tidak ada satu cara yang benar dalam menghadapi bos yang toksik. Jawabannya jarang sekali sederhana ketika kamu bergantung pada pekerjaan untuk penghidupan, terutama di pasar kerja yang sulit.

 "Jika memungkinkan, meskipun tidak selalu, tetapkan batasan yang jelas seputar waktu, dan beban kerja, dan lakukan yang terbaik untuk mematuhinya," imbuh Le Goy. Bisa juga dengan mengambil cuti sebanyak mungkin untuk melepaskan diri dari identitas kerja.

 Alternatif lainnya adalah mencari peluang karier baru. "Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan kehilangan dirimu sendiri karena pekerjaan bisa diganti, sedangkan kamu tidak," pungkas dia.

Terkini