JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menekankan pentingnya dukungan ekosistem yang ramah perempuan di sektor kelapa sawit, termasuk pemenuhan hak maternitas, fasilitas pengasuhan anak, ruang laktasi, serta edukasi bagi keluarga dan komunitas sekitar.
"Kami ingin memastikan perempuan tidak hanya diposisikan sebagai obyek dalam industri kelapa sawit, tetapi juga sebagai subyek pembangunan yang memiliki akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara," kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA, Amurwani Dwi Lestariningsih, di Jakarta, Rabu.
Amurwani mengatakan sektor kelapa sawit memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi banyak masyarakat Indonesia.
Namun, perempuan yang terlibat dalam sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses terhadap sumber daya dan pengambilan keputusan hingga pemenuhan hak-hak perempuan di lingkungan kerja.
KemenPPPA pun terus mendorong penguatan peran dan perlindungan perempuan di sektor kelapa sawit melalui penyusunan Pedoman Pengarusutamaan Gender (PUG) di sektor tersebut.
"Pengarusutamaan gender di sektor kelapa sawit bukan sekadar pemenuhan prinsip kesetaraan, tetapi juga merupakan bagian penting dari strategi pembangunan yang mampu meningkatkan produktivitas perempuan, memperkuat kesejahteraan keluarga, serta mendorong keberlanjutan sektor kelapa sawit. Karena itu, perspektif gender perlu diintegrasikan dalam kebijakan, program, dan tata kelola sektor secara lebih sistematis," kata Amurwani Dwi Lestariningsih.
Menurutnya, kebijakan yang responsif gender akan mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan berkeadilan bagi perempuan, sekaligus memperkuat kesejahteraan keluarga serta tumbuh kembang anak.