Ekonom Proyeksikan BI-Rate Tetap 5,5 Persen pada Rapat Juni Ini

Kamis, 18 Juni 2026 | 01:52:31 WIB
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bank Indonesia.

JAKARTA - Sejumlah ekonom memproyeksikan suku bunga acuan (BI-Rate) akan tetap pada level 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bank Indonesia pada Juni ini. 

Proyeksi ini muncul setelah bank sentral sebelumnya menempuh serangkaian kebijakan pengetatan yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

Pada RDG 19-20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps). 

Namun, lantaran nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 di luar jadwal reguler. Dengan demikian, total kenaikan kumulatif mencapai 75 bps dalam waktu singkat.

“Menurut pandangan kami, ini merefleksikan pengetatan moneter yang cukup signifikan dan kami memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada rapat di bulan Juni,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam publikasinya di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

BI juga telah menempuh langkah tambahan untuk menarik arus modal masuk, termasuk menaikkan imbal hasil instrumen SRBI. Riefky menilai kebijakan ini efektif membantu stabilitas pasar keuangan, di mana rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.700 per dolar AS pada 12 Juni.

Senada dengan Riefky, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, berpendapat bahwa BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kembali. 

Menurutnya, kondisi rupiah dalam beberapa hari terakhir sudah mulai menguat, harga minyak turun, dan tekanan pasar mulai mereda. Namun, Josua mengingatkan bahwa penguatan saat ini masih banyak bertumpu pada instrumen jangka pendek seperti SRBI.

"Ini berarti penguatan rupiah saat ini masih ditopang oleh kombinasi kenaikan suku bunga, instrumen moneter jangka pendek, dan perbaikan sentimen global, belum sepenuhnya oleh pemulihan kepercayaan investor jangka panjang," kata Josua.

Untuk memastikan penguatan rupiah yang berkelanjutan, ia memandang arus modal asing perlu meluas hingga ke pasar SBN dan pasar saham. 

Dalam skenario dasar, Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam jangka pendek.

Sementara itu, Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, juga sepakat bahwa kenaikan BI-Rate belum diperlukan saat ini karena tekanan nilai tukar mulai melandai, didukung oleh inflasi yang terkendali serta penurunan harga minyak dunia. 

Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu fokus mendorong investasi asing langsung (FDI) guna memperkuat fundamental ekonomi dan kepercayaan investor jangka panjang.

Terkini