Mendukbangga Ajak Ayah Luangkan Waktu Demi Tumbuh Kembang Anak

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29:01 WIB
Program GEMAR BKKBN: Solusi Atasi Fenomena Fatherless di RI [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji mengajak para kepala keluarga untuk menyisihkan waktu berkomunikasi dengan buah hati demi mengokohkan fungsi keluarga dalam mengawal pertumbuhan anak.

"Anak-anak itu rindu tidak hanya sentuhan duit, tapi juga butuh sentuhan psikologis," kata Wihaji saat menghadiri kegiatan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) di MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/06/2026).

Dalam acara yang digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional 2026 itu, Wihaji mengimbau para ayah agar bersedia meluangkan waktu luang bersama anak-anak mereka.

"Bapak-bapak tolong luangkan waktu untuk ngobrol sama anak-anak. Kalau nggak, anak-anak nantinya yang mengajak ngobrol adalah HP," katanya.

Agenda "Gemar" ialah program kerja milik Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang ditujukan guna mendongkrak peran serta ayah dalam mengasuh serta mendidik anak demi mewujudkan ketahanan keluarga yang lebih kokoh.

Berdasarkan pandangannya, situasi di Indonesia saat ini masih dibayangi oleh fenomena keterasingan figur ayah (fatherless).

"Berdasarkan data yang dimilikinya, sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami kondisi tersebut," katanya.

Wihaji menyebutkan bahwa pesatnya kemajuan teknologi kini menjelma menjadi tantangan baru bagi para orang tua. 

Generasi muda zaman sekarang kedapatan menghabiskan durasi yang tinggi di depan gawai, sehingga andil dari keluarga sangat mendesak dalam memberikan kawalan serta merajut komunikasi yang mendalam.

"Karena di Indonesia ada 25 persen istilah namanya fatherless, kehilangan sosok ayah. Seperti yang sering saya sampaikan unit yang paling terkecil di negara namanya keluarga. Maka, kalau kita bikin perbaikan dimulai dari keluarga, dan yang paling sederhana," katanya.

Wihaji berpendapat bahwa lembaga sekolah bukan sekadar wadah untuk menyalurkan ilmu, melainkan juga menyalurkan nilai-nilai kehidupan. 

Oleh sebab itu, ia menitipkan pesan bagi orang tua, utamanya para ayah, supaya meluangkan waktu dalam menjalin komunikasi serta keakraban dengan sang anak.

"Sekolah sebagai satuan pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer of value. Karena itu, saya titip anak-anak yang sekolah di sini diajak ngobrol. Karena, kalau tidak diajak ngobrol nanti anak kami semua ini ngobrolnya sama HP, yang kami sebut sebagai keluarga baru, yang kalau tidak hati-hati dipengaruhi oleh HP yang dalam tanda kutip tidak punya hati," katanya.

Agung Baskoro, salah satu wali murid yang datang pada acara itu, beranggapan bahwa program Gerakan Ayah Mengambil Rapor mampu memicu para ayah agar bersedia mengambil andil lebih besar dalam kehidupan dan proses belajar anak.

"Programnya bagus supaya kami lebih perhatian kepada anak-anak. Kehadiran ayah dalam pendidikan anak juga penting, karena selama ini sering kali urusan sekolah lebih banyak diserahkan kepada ibu," katanya.

Agung menambahkan bahwa padatnya rutinitas pekerjaan kerap menjadi ganjalan utama yang membuat para ayah belum bisa berpartisipasi secara maksimal dalam ranah pendidikan anak mereka.

Ia menilai, partisipasi seorang ayah sejatinya dapat diterapkan lewat aktivitas harian yang simpel, seperti menemani anak berangkat sekolah atau datang langsung untuk mengambil rapor.

"Saya berharap para ayah bisa lebih meluangkan waktu dan memberi perhatian kepada anak-anaknya. Hal-hal sederhana seperti mengantar sekolah atau mengambil rapor bisa menjadi bentuk dukungan yang berarti bagi anak," katanya.

Terkini