JAKARTA - Jangan pernah menganggap sepele kondisi organ mata yang berulang kali berair namun di sisi lain justru terasa gersang atau kering, khususnya apabila rutinitas harian Anda didominasi oleh aktivitas menatap monitor layar digital ataupun kerap berada di zona yang sarat akan paparan polusi udara.
“Mata yang terus-menerus berair dan diagnosis mata kering terdengar seperti kontradiksi. Sebenarnya tidak demikian, memahami alasannya dapat mengubah cara Anda merawat mata,” kata dokter oftalmologi Marengo Asia Hospitals, Gurgaon Dr Shibal Bhartiya seperti dilaporkan Hindustan Times pada Senin (22/6/2026).
Bhartiya menguraikan bahwa habituasi memandangi monitor layar ketika mengoperasikan gawai digital, memicu individu menjadi lebih jarang mengedipkan kelopak mata, bahkan menyusut hingga kisaran sepertiga dari intensitas normalnya.
Efek dominonya, saluran kelenjar minyak pada kelopak mata menjadi rentan mengalami penyumbatan, sementara di waktu yang sama lapisan cairan air mata menguap dengan tempo yang jauh lebih melesat ketimbang siklus proses produksinya.
Kondisi tersebut kian diperparah oleh kontaminasi polusi udara, durasi berada di dalam ruangan berpendingin udara, serta waktu perjalanan pulang-pergi yang menyita waktu panjang, di mana semuanya berpotensi memicu timbulnya gangguan mata kering.
Lapisan air mata, sambung Bhartiya, yang menyelimuti area permukaan mata sejatinya tidak murni tersusun atas unsur air semata.
Lapisan pelindung ini mengantongi tiga unsur komponen esensial, yakni zat minyak, air, serta lendir (mukus). Elemen ketiganya saling bersinergi secara bersamaan demi memelihara tekstur permukaan mata agar senantiasa licin, halus, serta stabil.
Ketika struktur lapisan pelindung tersebut mengalami gangguan, organ mata bakal mentransmisikan sinyal keadaan darurat.
Organ otak selanjutnya memberikan respons instan lewat memproduksi cairan air mata dalam kapasitas yang masif sebagai wujud proteksi pertahanan. Fenomena kondisi ini dikenal dengan istilah reflex tearing atau aktivitas memproduksi air mata refleks.
“Respons ini bersifat reaktif dan berlebihan, tetapi tidak banyak membantu dalam memberikan pelumasan yang sebenarnya. Akibatnya, mata bisa mengalami kekeringan sekaligus berair secara bersamaan,” tutur dia.
Berdasarkan pemaparan Bhartiya, terdapat sederet indikasi yang jamak mengisyaratkan adanya gangguan pada organ penglihatan seperti fenomena mata kering yang wajib diwaspadai, di antaranya: kondisi mata berair yang gejalanya kian memburuk saat menjelang malam hari, munculnya sensasi seperti terbakar atau rasa perih pada mata, serta pandangan visual yang kabur namun berangsur membaik sesudah berkedip.
Selanjutnya, munculnya sensitivitas berlebih terhadap paparan embusan angin atau udara dingin dari mesin pendingin ruangan (AC), sampai dengan kondisi mata yang gampang terasa lelah kendati sudah mendapatkan waktu istirahat tidur yang memadai sepanjang malam.
Bhartiya memberikan rekomendasi kiat yang dinilai mampu menolong dalam meredakan gangguan ini, antara lain dengan melakukan kompres pada area kelopak mata memakai kain kompres hangat, rutin mengonsumsi asupan suplemen omega-3, sekaligus memangkas durasi menatap layar monitor gawai serta melatih diri untuk berkedip secara sadar sekaligus berkala ketika mengoperasikan perangkat digital.
Apabila satu atau kombinasi dari beraneka macam gejala di atas berlanjut hingga melewati kurun waktu dua minggu, ada baiknya untuk segera menempuh langkah pemeriksaan organ mata secara mendalam dan menyeluruh kepada dokter ahli, ketimbang sekadar membeli produk obat tetes mata secara bebas dan mandiri di apotek.