JAKARTA — PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) membukukan laba setelah pajak senilai Rp99,26 miliar, melesat 94,5% dibanding capaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp51,03 miliar hingga akhir 2025 seiring membaiknya performa jasa asuransi serta hasil investasi.
Merujuk pada laporan publikasi keuangan per 31 Desember 2025 di harian Bisnis Indonesia edisi Jumat (26/6/2026), pendapatan jasa asuransi tumbuh menjadi Rp245,88 miliar dari Rp210,27 miliar di tahun 2024. Di periode yang sama, beban jasa asuransi terkerek naik menjadi Rp165,84 miliar dari Rp153,17 miliar.
Kinerja underwriting pun menunjukkan penguatan. Hasil jasa asuransi bersih berada di angka Rp84,93 miliar, terkerek sekitar 22,6% dari Rp69,23 miliar pada tahun terdahulu.
Dari sektor investasi, Ciputra Life berhasil menghimpun pendapatan investasi senilai Rp62,63 miliar, meningkat dari Rp45,39 miliar di tahun 2024.
Perusahaan juga mengantongi keuntungan investasi yang direalisasikan dan belum direalisasikan sebesar Rp30,84 miliar, berbalik dari posisi rugi Rp1,08 miliar pada tahun sebelumnya.
Peningkatan performa tersebut mengantarkan hasil asuransi dan investasi bersih menyentuh Rp27,97 miliar, berbalik positif dari posisi rugi Rp291 juta pada 2024.
Pada aspek neraca, jumlah aset Ciputra Life berkembang 29,3% menjadi Rp1,27 triliun per akhir 2025, dibandingkan Rp984,12 miliar di akhir 2024.
Pertumbuhan aset ini utamanya disokong oleh instrumen investasi yang melonjak jadi Rp1,06 triliun dari Rp816,67 miliar.
Sementara itu, liabilitas perusahaan mengembang menjadi Rp905,46 miliar dari Rp749,30 miliar seiring dengan eskalasi bisnis. Adapun nilai ekuitas naik menjadi Rp366,60 miliar dari Rp234,82 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari indikator permodalan, tingkat solvabilitas atau risk based capital (RBC) Ciputra Life bertengger di level 315% pada akhir 2025, menguat dibandingkan posisi 213% di tahun 2024. Perolehan tersebut berada jauh di atas ambang batas minimum regulator sebesar 120%.
Di samping itu, rasio kecukupan investasi ikut terdongkrak menjadi 151% dari 132%, sedangkan rasio likuiditas berada pada level 539%, walaupun lebih rendah dari angka 627% di tahun sebelumnya.