FAO Peringatkan Ancaman El Nino, RI Masuk Risiko Tinggi Kekeringan

Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10:01 WIB
Ancaman Fase Baru El Nino, FAO Sebut Indonesia Berisiko Kekeringan [FOTO: NET].

JAKARTA — Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memberikan peringatan bahwasanya fase baru El Nino berpotensi mulai tumbuh dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan. 

Indonesia bersama dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dipetakan sebagai area dengan tingkat risiko tinggi mengalami bencana kekeringan pertanian yang mampu menekan angka produksi pangan.

Di dalam hasil analisis teranyarnya, FAO memaparkan, ancaman kekeringan tertinggi terpusat di wilayah Sahel Afrika, Afrika bagian selatan, Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta Koridor Kering Amerika Tengah dan Karibia. 

Di rentetan kawasan tersebut, probabilitas kemunculan kekeringan pada area lahan pertanian serta padang penggembalaan diestimasikan melampaui angka 50%. 

Pemetaan dimaksud diformulasikan memakai Agricultural Stress Index System (ASIS) yang memanfaatkan rekaman citra satelit historis selama 41 tahun guna membedah dampak dari fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) dengan intensitas kuat hingga sangat kuat terhadap sektor pertanian.

Pihak FAO menilai banyak kawasan yang sekarang kembali masuk dalam kategori rawan merupakan wilayah yang sempat menderita dampak hebat sewaktu peristiwa El Niño periode 2015–2016 ataupun 2023–2024 silam. 

Siklus tersebut mengakibatkan terjadinya peristiwa gagal panen, kematian hewan ternak, membengkaknya utang rumah tangga, hingga migrasi penduduk imbas krisis pangan serta air bersih.

 Pada rentetan peristiwa El Niño 2015–2016, tercatat lebih dari 60 juta jiwa menderita dampak dan memicu timbulnya kebutuhan bantuan kemanusiaan dengan taksiran nilai sekitar US$5 miliar di 23 negara.

Kepala Sumber Daya Alam FAO Jorge Alvar-Beltrán memaparkan, ancaman dari El Niño periode kali ini berpotensi berimbas lebih masif lantaran berlangsung saat suhu rata-rata global bertengger pada level yang lebih tinggi ketimbang siklus-siklus sebelumnya, sementara pusaran konflik dan kerawanan pangan masih terus menjangkiti banyak negara.

"Ini tidak seperti El Niño sebelumnya. Planet ini jauh lebih hangat saat ini, dan dengan konflik serta kerawanan pangan yang meluas, fase baru ini akan paling berdampak di tempat-tempat yang sudah rentan dan memiliki kapasitas penanggulangan yang terbatas," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (30/6/2026).

Guna mengantisipasi imbas buruk tersebut, FAO bersama dengan World Food Programme (WFP) menggulirkan seruan aksi antisipatif dengan nilai anggaran mencapai US$202 juta demi melindungi berkisar 8,8 juta jiwa penduduk di 22 negara yang dinilai paling ringkih.

 Kucuran dana tersebut bakal diaplikasikan untuk menyokong kaum petani serta peternak, mengalirkan bantuan tunai sebelum musibah melanda, serta memperkokoh sistem peringatan dini dalam menghadapi ancaman kekeringan, banjir, hingga badai.

Pihak FAO mengestimasikan lebih dari 80% dampak kekeringan terhadap sektor pertanian bakal melanda negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah serta menengah yang sejauh ini masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan dan mengantongi kapasitas adaptasi yang terbatas.

Di kawasan Asia sendiri, wilayah yang diprediksi bakal menghadapi tekanan paling berat mencakup:

Pakistan

India

Myanmar

Thailand

Kamboja

Vietnam

Filipina

Indonesia

Timor-Leste

Menyusutnya curah hujan di zona-zona tersebut berpotensi menekan angka produksi komoditas pangan utama, khususnya komoditas padi dan jagung, yang memegang andil krusial bagi tingkat konsumsi domestik maupun lalu lintas perdagangan pangan global.

FAO memberikan peringatan bahwa rekam jejak El Niño tahun 2015 memperlihatkan kemerosotan hasil produksi padi serta jagung di beberapa negara produsen utama sempat memicu lonjakan harga pangan dunia. 

Di samping itu, sejumlah negara yang sekarang diproyeksikan berada pada posisi risiko tinggi juga beririsan dengan daftar wilayah Hunger Hotspots FAO-WFP, memperlihatkan semakin eratnya keterkaitan antara dinamika perubahan iklim, konflik, serta tekanan ekonomi terhadap ketahanan pangan global.

Terkini