Pakar Ungkap Alasan Anak-anak Lebih Rentan Kena Malaria Berat

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:57:01 WIB
Kenapa Anak-anak Lebih Rentan Terhadap Dampak Malaria Berat? [FOTO: NET].

JAKARTA - Konsultan Pediatri Umum di Rumah Sakit Anak Madhukar Rainbow di India Dr. Ankur Ohri memaparkan faktor penyebab di balik alasan mengapa golongan anak-anak berstatus sebagai salah satu kelompok yang lebih rentan terhadap efek dampak malaria berat.

“Parasit malaria menginfeksi dan menghancurkan sel darah merah, sehingga mengurangi kemampuan untuk membawa oksigen,” kata Ohri dalam siaran Hindustan Times pada Senin (29/6/2026) waktu setempat.

Ohri mengutarakan bahwasanya tatkala anak-anak terjangkit infeksi malaria, mereka bakal merasakan kadar keparahan penyakit yang jauh lebih masif dibandingkan kelompok orang dewasa. 

Hal tersebut dipicu oleh kondisi cadangan organ tubuh anak yang relatif lebih kecil beriringan dengan tingkat metabolisme yang lebih tinggi, sehingga memicu kemerosotan status kesehatan yang cukup masif. 

Ia mengimbuhkan bahwa di luar populasi umum, naiknya derajat risiko pada kelompok anak-anak juga dipengaruhi oleh durasi waktu yang mereka habiskan di area luar ruangan.

“Karena anak-anak biasanya menghabiskan banyak waktu di luar rumah, mereka bergantung pada pengasuh mereka untuk mengenali gejala dan mengakses perawatan medis darurat," kata Ohri.

Proses diagnosis yang terlambat, tindakan pengobatan mandiri, ataupun asumsi keliru bahwa sang anak cuma mengidap infeksi penyakit virus lumrah dapat mengakibatkan proses perjalanan penyakit melesat cepat dari stadium ringan menuju tingkat parah.

Di sisi lain, Konsultan Penyakit Dalam di Rumah Sakit CK Birla, Delhi, India Dr. Amit Prakash Singh memberikan penilaian bahwa anak-anak mengantongi risiko yang lebih tinggi untuk mendapati komplikasi akibat malaria lantaran mekanisme sistem pertahanan kekebalan tubuh mereka masih berada dalam fase perkembangan.

“Banyak orang dewasa yang tinggal di daerah dengan malaria mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka melalui paparan malaria berulang, namun, anak-anak kecil tidak mengembangkan kekebalan apa pun dengan paparan malaria berulang,” ujarnya.

Lebih mendalam, Ohri memaparkan saat penyakit malaria hinggap pada anak, konsekuensinya ialah parasit malaria bakal membelah diri secara kilat serta masif di dalam aliran darah anak, yang memicu penyusutan sel darah merah dalam jumlah signifikan. 

Kondisi ini dapat mengundang simtom anemia berat, yang menjadi salah satu bentuk komplikasi malaria paling lumrah sekaligus mengancam jiwa pada anak-anak.

Bukan itu saja, infeksi malaria dapat merambat memengaruhi kinerja organ tubuh lainnya, yang memicu gangguan kesulitan bernapas, kadar gula darah rendah, kondisi dehidrasi, hingga pada tingkat kasus malaria paling kronis, memicu malaria serebral (malaria yang menginvasi organ otak), yang berujung pada kejang, kondisi koma, dan/atau kelainan cedera otak permanen.

Sementara itu, Singh memaparkan bahwa indikasi gejala awal infeksi malaria pada anak-anak mencakup gangguan demam, rasa letih, kecenderungan mudah marah, muntah-muntah, serta problem kesulitan makan. 

Sederet indikasi ini juga serupa dengan gejala penyakit umum masa kanak-kanak lainnya, sehingga kalangan orang tua berpotensi mengulur waktu untuk mencari tindakan penanganan medis walaupun kondisi kesehatan anak merosot secara kilat.

“Langkah-langkah pencegahan seperti pengendalian nyamuk, kelambu yang diolah dengan insektisida, diagnosis tepat waktu, dan pengobatan dini memainkan peran penting dalam melindungi anak-anak dari malaria berat dan mengurangi komplikasi terkait,” ucap Singh.

Terkini