Kekeringan Meluas, Pemkab Tasikmalaya Kirim Bantuan Air Bersih

Rabu, 01 Juli 2026 | 21:29:01 WIB
Krisis Air di Tasikmalaya, Akses Lokasi Jadi Kendala Penyaluran [FOTO: NET].

JAKARTA - Sejumlah wilayah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kini dilanda kekeringan akibat musim kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah memulai langkah penyaluran bantuan air bersih serta menyiapkan berbagai upaya mitigasi guna melindungi kebutuhan dasar warga dan sektor pertanian. 

Langkah ini diambil setelah banyaknya laporan mengenai sumber air warga yang mengering, yang kini juga mengancam lahan pertanian sebagai sumber penghidupan penduduk.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah bergerak menyalurkan bantuan air ke wilayah yang terdampak.

"Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah turun untuk melakukan penanggulangan kekurangan air dengan cara membagikan air bersih," kata Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al Ayubi kepada wartawan di Tasikmalaya, Selasa (30/6/2026) dikutip dari Antara. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah telah siaga menghadapi dampak kekeringan meskipun distribusi air menemui berbagai kendala lapangan. "Bantuan sudah disalurkan ke beberapa daerah," ujarnya.

Selain distribusi air, pemerintah menyiapkan pompa sumur resapan dan pompa pertanian untuk menjaga ketahanan pangan. 

"Kami saat ini telah menyiapkan pompa-pompa sumur resapan air dan pompa pertanian demi menjaga ketahanan pangan daerah," ucap Asep. 

Mengenai siklus kekeringan, ia menyatakan hal tersebut adalah fenomena tahunan. "Saat musim hujan kami rawan kelebihan air, sementara musim kemarau rawan kekeringan," katanya.

Di sisi lain, kondisi berat dialami sekitar 700 kepala keluarga di Dusun Cipari dan Cipakat, Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, yang kesulitan air selama tiga bulan terakhir. 

Mereka kini hanya mengandalkan air dari sumur masjid dengan sistem antrean setiap harinya. Camat Bojonggambir, Ucu Mulyana, menyatakan bahwa stok air di masjid adalah tumpuan warga saat ini. 

"Sumur warga berjumlah hampir 700 KK di wilayah kami sudah mengering akibat kemarau panjang sejak tiga bulan lalu. Mereka sekarang hanya mengandalkan dua sumur di dua masjid wilayah mereka untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya. 

"Mereka tiap hari rela antre bergantian ambil air yang stoknya masih tersedia di masjid itu," sambungnya.

Kendati pihak kecamatan telah melapor ke BPBD, bantuan belum bisa disalurkan setiap hari. Faktor geografis menjadi kendala utama karena lokasi desa yang terpencil memerlukan waktu tempuh hingga tiga jam dari pusat kota, yang membuat distribusi logistik menjadi tidak optimal.

Terkini