JAKARTA - Indonesia Investment Authority (INA) membukukan realisasi investasi kumulatif senilai Rp 74,5 triliun, sekaligus mendongkrak akumulasi aset kelolaan (assets under management/AUM) hingga menyentuh angka Rp 146 triliun atau berkisar 1,9 kali lipat dari modal awalnya.
“Dalam lima tahun terakhir, total investasi yang telah direalisasikan INA di Indonesia mencapai Rp 74,5 triliun. Sementara itu, total aset kelolaan (assets under management/AUM) telah mencapai Rp 146 triliun, atau meningkat sekitar 1,9 kali lipat dibandingkan modal awal saat INA pertama kali beroperasi,” kata CEO INA Oki Ramadhana di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Dari keseluruhan total aset kelolaan tersebut, porsi sekitar Rp 110,2 triliun merupakan modal yang dikelola langsung oleh INA, sedangkan Rp 36 triliun sisanya bersumber dari penempatan dana awal para mitra.
Seiring berjalannya waktu, nilai sumbangsih dari para mitra tersebut merangkak naik menjadi Rp 41,2 triliun. Adapun dari total investasi kumulatif senilai Rp 74,5 triliun, porsi sebesar Rp 33,3 triliun berasal dari kantong INA, sementara Rp 41,2 triliun lainnya datang dari kucuran investasi para mitra.
Oki memaparkan bahwa Indonesia dibekali pilar ekonomi yang teruji solid dalam melewati beraneka guncangan global sepanjang dua dekade ke belakang.
Menurut penuturannya, momentum pembenahan struktur ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo menjadi celah strategis untuk memacu pertumbuhan yang jauh lebih pesat.
"Indonesia memiliki sistem ekonomi yang benar selama 20 tahun terakhir. Sistem ini terbukti luar biasa karena membuat pasar Indonesia menjadi salah satu yang paling resilien di dunia dalam menghadapi berbagai krisis global," ujar Oki.
Oki menambahkan, pihak pemerintah membidik target agar Indonesia mampu menjelma sebagai negara maju pada tahun 2045, dengan ambisi pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 8 persen di tahun 2029.
Guna menyokong pencapaian target raksasa tersebut, diperlukan sokongan dana investasi dalam volume masif yang mengintegrasikan andil dari penanam modal domestik maupun mancanegara.
"INA hadir sebagai katalis untuk menarik investasi global ke Indonesia. Setiap satu rupiah yang kami investasikan diharapkan mampu menarik satu rupiah atau bahkan lebih dari investor lain sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian," katanya.
Sepanjang lima tahun ke belakang, INA sukses mengamankan komitmen investasi dengan nilai total mencapai 25 miliar dollar AS dari berkisar 40 mitra strategis yang tersebar di 15 negara asal kawasan Asia, Amerika Serikat, hingga wilayah Eropa.
Dalam tata kelola portofolio, INA mengimplementasikan taktik diversifikasi ke beraneka ragam instrumen aset, mulai dari private equity, sektor infrastruktur, hingga instrumen private credit.
Saat ini, lini transportasi dan logistik menempati posisi sebagai penyumbang porsi terbesar dengan rasio 44 persen, diikuti oleh sektor digital termasuk pusat data sebesar 29,6 persen, sektor energi 9,8 persen, serta lini kesehatan.
INA pun mulai melebarkan jangkauan investasinya menuju sektor advanced material serta manufaktur, selaras dengan program hilirisasi dan industrialisasi yang digalakkan di tingkat nasional.
"Fokus investasi kami ke depan adalah sektor-sektor yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, sejalan dengan prioritas pemerintah untuk memperkuat industrialisasi Indonesia," ujar Oki.
Deretan proyek investasi besutan INA telah menorehkan dampak nyata bagi perekonomian, beberapa di antaranya ialah penanaman modal pada infrastruktur Jalan Tol Semarang, area pelabuhan di Belawan, pembangunan pabrik pengolahan plasma perdana di tanah air lewat kolaborasi bersama SK Plasma, hingga perintisan pusat data bersama DayOne di Karawang yang diproyeksikan bertumbuh hingga menyentuh kapasitas 750 megawatt.
Ke depan, INA bakal memperluas peta strategi lewat cetak biru konsep Indonesia Nexus, yakni menyalurkan investasi pada deretan dana global yang memegang keterkaitan strategis dengan Indonesia demi memikat lebih banyak modal asing masuk ke sektor-sektor masa depan.
“Memasuki fase INA 2.0, INA kini menyiapkan arah pengembangan untuk lima tahun ke depan. Terdapat beberapa fokus utama yang akan dijalankan, diantaranya, INA akan tetap berfokus pada sektor-sektor prioritas yang selama ini menjadi sasaran investasi. Selain itu, INA juga akan memperluas investasi ke sektor advanced materials dan manufaktur, sejalan dengan agenda industrialisasi nasional. Strategi berikutnya adalah memperkuat investasi melalui skema fund investment atau investasi pada dana investasi. “Investasi ini dapat dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Namun, prinsip utamanya adalah setiap investasi harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan kepentingan strategis Indonesia serta mampu menciptakan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional,” tegas dia.