Cara Bedakan Emosi Normal Remaja dan Gejala Gangguan Mental

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:29:31 WIB
Psikolog Ungkap 3 Kunci Deteksi Gangguan Mental pada Remaja [FOTO: NET].

JAKARTA - Menginjak fase pubertas, para orangtua umumnya bakal berhadapan dengan gejolak emosi anak yang naik turun secara radikal. 

Perilaku membantah, gampang tersinggung, menuntut ruang privasi lebih, hingga mendadak mengunci diri di kamar, bertransformasi menjadi dinamika yang lumrah dijumpai di lingkungan rumah.

Fase perburuan jati diri ini acap kali memicu orangtua dilingkupi rasa waswas serta kebingungan. Timbul keraguan guna memilah apakah transformasi sikap anak ialah bagian dari perkembangan psikologis yang wajar, atau justru indikasi awal dari adanya gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan penuturan psikolog keluarga Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog, terdapat tiga elemen yang dapat diamati untuk memisahkan apakah pergeseran sikap anak merupakan bagian dari pencarian identitas, atau indikator kesehatan mental yang memerlukan tindakan medis.

"Kata kuncinya tiga. Yang pertama ini mengganggu, yang kedua ada di banyak area, yang ketiga konsisten. Maksudnya, gangguannya sudah ada di banyak area kehidupan dia, misalnya mulai ada indikasi sulit tidur," ungkap dia dalam acara "Media Talkshow: Panduan Tenang Keluarga Bersama GrabKeluarga" di Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

3 kunci deteksi gejala gangguan mental remaja

Masa transisi anak kerap memicu penolakan afeksi yang sejatinya masih masuk ke dalam batas wajar pencarian identitas diri. 

Namun, saat pergolakan itu memperlihatkan ketiga indikator di bawah ini, orangtua wajib mengerek tingkat kewaspadaan.

1. Mengganggu rutinitas dan kebutuhan dasar

 Pergolakan batin yang tengah dirasakan anak remaja dapat dikatakan mulai mengarah pada indikasi klinis apabila emosi itu telah mengusik aktivitas dasar kelangsungan hidup mereka.

 Orangtua mesti memantau perubahan drastis pada kebiasaan fisik harian di rumah, seperti problem tidur, yang bertindak sebagai keluhan pertama yang tampak benderang.

Bukan cuma itu, persoalan emosional yang terpendam pun amat memengaruhi pola makan. Wujud gangguannya dapat bermutasi sangat ekstrem dan bertolak belakang.

"Makan jadi sangat lahap, binge-eating, atau makannya jadi tidak mau makan, tidak nafsu makan," papar Pritta.

Kendala pada dua kebutuhan fisiologis dasar ini mengindikasikan bahwa beban pikiran remaja telah terlampau berat dan tidak lagi sanggup diatasi oleh mekanisme pertahanan diri mereka sendiri.

2. Berdampak pada banyak area kehidupan

 Indikator penentu selanjutnya ialah seberapa jauh dampak emosi negatif tersebut mengintervensi beraneka rupa aspek kehidupan anak. 

Rasa sedih yang lumrah biasanya cuma berimbas pada satu faktor pemicu yang spesifik. Namun, jika masalahnya tergolong serius, efek negatifnya bakal meluas secara kilat.

Hal tersebut amat kentara dari bagaimana anak mulai memutuskan jalinan interaksi sosial secara mendadak dan kehilangan gairah atas hal yang selama ini mereka gemari.

"Minat terhadap hobinya mulai berkurang, temennya juga udah dijauhin semua, ngurung diri aja di kamar seharian," terang Pritta.

Perilaku menarik diri dari lingkungan pergaulan ini lambat laun bakal mengusik pencapaian akademisnya.

"Lalu ditambah prestasi akademiknya atau penampilannya di sekolah itu turun drastis," sebut Pritta.

3. Terjadi konsisten selama dua sampai tiga minggu 

Hal pamungkas yang membedakan antara sikap remaja yang sekadar emosional sesaat dengan problem psikologis ialah durasi kejadian. 

Pergeseran pola tidur atau makan, atau tabiat gampang tersinggung atau mengurung diri yang cuma berlangsung singkat, belum memenuhi kriteria sebagai sebuah gangguan kejiwaan.

Remaja normal tetap mempunyai hari-hari buruk yang memicu suasana hati mereka berantakan sementara waktu. 

Bisa saja suasana hati kacau lantaran sedang berselisih dengan temannya. Walakin, intensitas kemunculan tabiat negatif tersebut wajib diobservasi secara teliti oleh keluarga. 

Apabila tanda penarikan diri dan memburuknya rutinitas harian anak tidak kunjung membaik, langkah lanjutan wajib diambil.

"Tapi kalau intensitas ini terjadinya setiap hari secara konsisten dalam waktu paling tidak dua sampai tiga minggu berturut-turut, nah itu berarti orangtua perlu concern," jelas Pritta.

Ketika menyaksikan seluruh indikator tersebut terpenuhi, orangtua dianjurkan untuk lekas menyerahkan proses diagnosis kepada tenaga kesehatan demi memperoleh intervensi yang akurat.

"Boleh kami berkonsultasi kepada profesional. Jadi istilahnya jangan analisis sendiri," pungkas Pritta.

Terkini