Strategi Krakatau Steel Genjot Ekspor Baja di Semester II/2026

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:36:01 WIB
Krakatau Steel Bidik Kontribusi Ekspor Baja 10-15 Persen Tahun Ini [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) memandang peluang pengapalan ekspor baja masih terbilang cukup optimal pada semester II/2026 di tengah maraknya arus proteksionisme serta eskalasi standar emisi di kancah pasar global. Sederet siasat pun telah dipersiapkan oleh pihak perseroan demi menjembatani tantangan tersebut.

Corporate Secretary KRAS Rachman Hidayat mengutarakan bahwa salah satu kendala prinsipal ekspor baja pada paruh kedua 2026 yakni menguatnya kebijakan perlindungan perniagaan di berbagai negara tujuan.

 Ia menjabarkan, bermacam negara saat ini tengah memperkokoh instrumen pengamanan dagang demi memproteksi industri baja dalam negeri mereka dari gempuran pasokan produk impor berbiaya miring, terutama yang berasal dari negara dengan volume kapasitas produksi masif layaknya China.

Menurut pandangannya, aneka regulasi seperti anti-dumping, safeguard, hingga pengetatan pengawasan impor kian meluas diterapkan di kancah pasar global. 

Di lain sisi, negara-negara di kawasan Eropa pun turut memperketat batasan standar emisi lewat pengoperasian Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang memicu hanya komoditas baja beremisi rendah yang diizinkan menembus pasar wilayah tersebut.

"Selain CBAM, Eropa juga menerapkan Tariff Rate Quota (TRQ) yang semakin memperkuat sistem pengamanan perdagangan," kata Rachman kepada Bisnis, dikutip Minggu (5/7/2026).

Di balik rentetan kendala tersebut, ia menilai peta prospek ekspor baja pada paruh kedua 2026 masih bakal dipengaruhi oleh beberapa aspek penentu, mulai dari pergerakan harga komoditas baja dunia, ongkos bahan baku, biaya logistik pengiriman, nilai tukar mata uang, sampai dengan tingkat permintaan dari sektor konstruksi serta manufaktur global. 

Kebijakan tata niaga di negara tujuan ekspor juga bakal bertindak selaku faktor krusial yang mengintervensi rapor penjualan luar negeri industri baja.

Melalui pertimbangan dari beraneka dinamika tersebut, KRAS bakal mengimplementasikan strategi yang jauh lebih selektif dalam menetapkan wilayah pasar sasaran ekspor.

“Kami akan memprioritaskan negara tujuan yang memiliki permintaan stabil, risiko perdagangan yang terkendali, dan memberikan margin yang sehat bagi perusahaan,” katanya.

Guna memacu volume ekspor pada semester II/2026, KRAS bakal menitikberatkan fokus pada langkah penguatan pasar yang telah berjalan sembari mengintip peluang di negara-negara baru. 

Di samping itu, KRAS akan memaksimalkan penjualan produk baja yang mengantongi keunggulan kompetitif tinggi serta permintaan kokoh di panggung internasional. 

Pihak perseroan juga konsisten memperdalam jalinan sinergi bersama rekan dagang domestik maupun mancanegara, meningkatkan keandalan rantai pasokan, sekaligus memastikan tiap produk ekspor melengkapi standar kualitas dan regulasi yang mengikat di negara tujuan.

Rachman menambahkan aktivitas ekspor tetap bertindak selaku salah satu fondasi esensial dalam strategi pertumbuhan perusahaan sepanjang tahun ini. 

Selaras dengan proyeksi pertumbuhan volume produksi sebesar 38% pada 2026, KRAS membidik porsi kontribusi ekspor di kisaran 10% sampai 15% dari target perolehan pendapatan konsolidasi senilai US$1,6 miliar.

Menurutnya, akselerasi ekspor diperlukan guna memperluas penetrasi pasar, memaksimalkan utilisasi kapasitas produksi, sekaligus melahirkan portofolio penjualan yang jauh lebih berimbang antara pasar domestik dan mancanegara.

“Ekspor menjadi salah satu pilar strategi perseroan untuk memperluas penetrasi pasar, mengoptimalkan utilisasi kapasitas produksi, serta menciptakan portofolio p

Terkini