Studi: Obrolan Membosankan Ternyata Baik bagi Kesehatan

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:56:32 WIB
Riset: Obrolan Ringan dan Sepele Bisa Cegah Kesepian [FOTO: NET].

JAKARTA - Banyak dari kita yang malas berbasa-basi dengan rekan kerja atau tetangga baru agar tidak terjebak dalam obrolan yang membosankan. Padahal, penelitian terkini dalam Journal of Personality and Social Psychology yang berjudul "Conversations About Boring Topics Are More Interesting Than We Think" (2026) malah menganjurkan hal sebaliknya. 

Studi tersebut mendapati bahwa orang-orang yang terlibat dalam obrolan sepele justru merasa interaksi itu jauh lebih menarik daripada yang mereka bayangkan sebelumnya. Aktivitas rutin ini bahkan berpeluang memberikan dampak positif yang besar untuk kesehatan fisik serta mental Anda.

"Momen-momen ini memang kecil, tetapi tidak sepele," ungkap psikolog dan asisten profesor di departemen psikiatri dan kesehatan perilaku di The Ohio State University Wexner Medical Center, Nicholas Allan, PhD, mengutip Self Magazine, Minggu (5/7/2026).

Meneliti topik yang dihindari

Riset ini melibatkan 1.800 sukarelawan dalam sembilan bentuk eksperimen. Mereka diminta memperkirakan tingkat keasyikan saat mengobrolkan tema-tema yang dianggap menjemukan, seperti Perang Dunia I dan II, matematika, bawang bombai, pasar saham, kucing, hingga diet vegan, baik dilakukan bersama orang asing maupun kawan sendiri.

Meski para peserta mengira obrolan akan terasa garing, mereka justru merasakan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan. Efek positif ini tetap terjadi walaupun kedua belah pihak sama-sama menilai topik yang dibahas itu membosankan.

"Kami memutuskan untuk melakukan penelitian ini karena sangat banyak orang menghindari percakapan yang mereka pikir akan membosankan," jelas penulis utama studi dan mahasiswa doktoral di University of Michigan, Elizabeth Trinh.

Banyak individu menjauhi basa-basi, memilih tidak datang ke acara jejaring sosial karena malas berbasa-basi, dan menganggap tema tertentu seperti cuaca, perjalanan kerja, atau rutinitas harian tidak akan menarik.

"Jika percakapan pada umumnya baik untuk kita, mengapa kita sering berharap bahwa percakapan basa-basi tersebut akan membosankan atau menguras tenaga?" lanjut Trinh.

Keterlibatan lebih penting dari topik

Para pakar melihat bahwa faktor utama dari serunya sebuah obrolan bukan terletak pada topik yang diangkat, melainkan pada tingkat keterlibatan para pesertanya. Hal ini dikarenakan keterlibatan emosional memicu rasa senang yang lebih besar ketimbang subjek pembicaraan itu sendiri.

Trinh memaparkan bahwa banyak orang mengira daya tarik muncul dari subjek yang menarik. Padahal, hal yang membuat suatu percakapan terasa hidup adalah ikatan emosional.

"Like feeling heard, responding to one another, and finding unexpected details about someone’s life. Even mundane topics can become meaningful when two people are actively engaged with each other," ucap dia.

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Vanderbilt University Medical Center, Aaron P. Brinen, PsyD menambahkan, saling terhubung lewat tema yang membosankan seperti bawang bombai sekalipun tetap dinilai sebagai sebuah interaksi sosial.

"Terkadang orang akan memprediksi bahwa sebuah percakapan akan terasa canggung atau tidak nyaman," kata profesor madya klinis psikologi di NYU Langone Health, Thea Gallagher, PsyD.

"Namun jika kamu mencoba untuk terhubung dan mendengarkan dalam sebuah percakapan, akan ada manfaat besar," sambung dia.

Dampak basa-basi "membosankan" bagi kondisi mental fisik

Allan menyebutkan bahwa obrolan ringan semacam ini terbukti efektif dalam menangkal perasaan terisolasi. Baginya, kesepian tidak diukur dari seberapa banyak orang yang dijumpai seseorang, melainkan dari apakah interaksi yang terjadi terasa saling terhubung dan mendalam.

"Menghindarinya justru meningkatkan rasa sepi. Bahkan jika kamu tidak ingin menjadi bagian dari percakapan itu, kamu tetap kesepian," tambah Brinen.

Rasa sepi dapat mendatangkan risiko kesehatan yang fatal, seperti gangguan jantung, stroke, diabetes, depresi, demensia, hingga kematian di usia muda.

"Ketika kami menemukan cara untuk terlibat dengan orang lain, hal itu memenuhi kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain," ujar Brinen.

Lama-kelamaan, momen-momen kecil ini akan terakumulasi untuk meredam rasa sepi dan menurunkan risiko penyakit. Kendati demikian, Allan memberikan catatan mengenai batasan sosialnya.

"Tidak semua kontak sosial bermanfaat. Lebih banyak kontak tidak secara otomatis lebih baik," kata dia.

"What seems to matter most is whether the interaction feels respectful, reciprocal, and emotionally safe. Positive connections help—not interactions that feel draining or hostile," imbuh Allan.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk sekadar mengobrol ringan. Anda bisa saja kehilangan kesempatan emas untuk membangun kedekatan hanya karena salah menilai jalannya sebuah percakapan.

"If we avoid talking to someone because we assume it will be boring, we might be unnecessarily depriving ourselves of small moments of connection that could boost our mood and sense of belonging," pungkas Trinh.

Terkini