Alasan Anak Suka Koleksi Batu dan Kerang Menurut Psikolog

Senin, 06 Juli 2026 | 01:42:01 WIB
Psikolog Ungkap Manfaat Anak Gemar Mengoleksi Benda Kecil [FOTO: NET].

JAKARTA – Menjumpai tumpukan batu, kerang, stik es krim, atau gantungan kunci di dalam kamar anak terkadang memicu rasa heran bagi sebagian orangtua. Kendati demikian, menurut penuturan psikolog anak, kecenderungan mengumpulkan berbagai benda itu pada dasarnya merupakan bagian dari fase tumbuh kembang yang positif, bukan cuma sekadar keisengan atau tindakan tanpa arti.

Pandangan tersebut dipaparkan oleh psikolog yang juga menjabat sebagai Director of Child Services di UTHealth Houston Trauma and Resilience Center, Leslie Taylor, PhD, sebagaimana dikutip dari Parade (1/7/2026).

Ia menguraikan bahwa aktivitas mengoleksi barang umumnya mulai tampak ketika anak menginjak usia sekitar enam tahun, serta dapat merepresentasikan kematangan kognitif sekaligus proses pembentukan karakter personal sang anak.

"Mengoleksi dapat menjadi indikator perkembangan yang sehat dan sering kali dimulai sekitar usia enam tahun. Melalui kebiasaan ini, anak belajar mengategorikan, mengembangkan pengetahuan pada suatu topik, membangun identitas, serta melatih kemampuan mengorganisasi," ujar Taylor. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya karena tidak memuat kata ganti yang dilarang).

Bahkan, diperkirakan berkisar antara 30 sampai 40 persen anak mempunyai jenis koleksi tertentu. Persentase tersebut bahkan diproyeksikan dapat mendekati angka 80 persen.

Mengapa anak suka mengumpulkan benda?

Taylor menjabarkan, anak-anak biasanya akan memilih objek yang dinilai memikat bagi mereka, entah karena faktor bentuk, corak warna, tekstur, ataupun pola yang melekat pada benda tersebut. 

Oleh sebab itu, macam koleksi dari tiap anak dapat sangat variatif, mulai dari bebatuan, cangkang kerang, biji ek, klip kertas, hingga batang pensil.

"Ini menjadi cara yang halus tetapi penting bagi anak untuk menunjukkan siapa dirinya, apa yang mereka sukai, dan hal-hal yang mereka banggakan," kata Taylor. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Ia mengimbuhkan bahwa opsi barang yang dikumpulkan tersebut kerap kali berkelindan dengan ketertarikan dan watak anak. Sebagai contoh, batu atau cangkang kerang memiliki keunikan wujud, warna, serta tekstur yang sanggup memantik rasa ingin tahu mereka. Di samping menjadi medium untuk mengekspresikan diri, aktivitas mengoleksi juga menyokong anak dalam mengenali lingkungan sekitar mereka.

Membantu perkembangan kemampuan berpikir

Berdasarkan penjelasan Taylor, mengumpulkan benda-benda merupakan salah satu wujud nyata dari schema, yakni suatu pola pikir yang diaplikasikan anak untuk menginterpretasikan dunia nyata.

"Schema adalah pola mental atau tema yang membantu anak menguji ide dan memahami bagaimana sesuatu bekerja. Ini merupakan pola berulang yang digunakan anak untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya," jelasnya. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Lewat aktivitas ini, anak dilatih untuk mengidentifikasi kemiripan serta perbedaan di antara objek lalu mengelompokkannya seturut sifat-sifat tertentu. 

Taylor menuturkan bahwa setiap koleksi pun kerap kali menyimpan histori tersendiri, misalnya momen sewaktu barang itu didapatkan dan dasar ketertarikan memilihnya. 

Saat anak menguraikan cerita di balik barang koleksinya, kecakapan verbal serta perbendaharaan kosakata mereka pun turut terasah.

Kapan orangtua perlu waspada?

Walaupun mengumpulkan barang umumnya tergolong ke dalam perilaku yang konstruktif, Taylor mengimbau orangtua agar tetap jeli dalam membedakannya dengan tendensi menimbun barang secara impulsif (hoarding). 

Menurut pandangannya, sebuah koleksi sewajarnya mempunyai konsep atau tema yang konkret dan anak akan merasa bangga ketika memamerkannya kepada orang lain.

Sebaliknya, perilaku hoarding biasanya ditandai oleh kecenderungan menumpuk beraneka objek secara acak tanpa adanya keteraturan pola.

"Anak mungkin mengumpulkan benda apa saja yang menurut mereka akan berguna di masa depan tanpa organisasi atau tema yang jelas," ujar Taylor. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Ia menambahkan, anak yang menunjukkan gejala hoarding juga kerap diselimuti rasa malu apabila barang simpanannya diinspeksi oleh orang lain, tidak mengerti tujuan utama mereka mengumpulkan objek tersebut, serta memperlihatkan kepanikan berlebih tatkala barang-barangnya disentuh atau dipindahkan tanpa izin. Bahkan, terdeteksi sekitar 2 persen remaja mengalami indikasi hoarding pada tingkatan klinis.

Apa manfaat anak memiliki koleksi?

Taylor menilai, pada mayoritas dinamika yang terjadi, kegemaran mengoleksi objek justru mendatangkan beraneka dampak positif bagi perjalanan tumbuh kembang anak.

"Memulai dan merawat koleksi dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan fungsi kognitif, memperkuat hubungan sosial, serta memberikan rasa pencapaian," katanya. (Catatan: Isi kutipan asli dipertahankan seutuhnya).

Ia melengkapi bahwa proses menyusun koleksi juga dapat menjadi instrumen bagi anak untuk mengelola kestabilan emosi. Pada beberapa kondisi, koleksi bahkan bisa berfungsi sebagai pengingat memori atas sosok yang sudah tiada atau menjadi sarana penghormatan terhadap kenangan indah tertentu.

Menurut Taylor, seluruh faedah tersebut mampu menyokong perkembangan psikologis anak dan remaja menuju arah yang sehat. 

Bagi para orangtua, kebiasaan anak merawat barang-barang yang dipandang menarik tidak semestinya langsung dicurigai sebagai indikasi problem perilaku. 

Sepanjang koleksi itu memiliki esensi yang jelas, tertata rapi, serta tidak memicu kecemasan yang ekstrem, tindakan tersebut pada umumnya merupakan bagian natural dari proses belajar sekaligus pematangan diri anak.

Terkini