Mengupas Arus Keuangan FIFA dan Rekor Pendapatan Piala Dunia 2026

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:24:01 WIB
Menelisik Sumber Pendapatan dan Alokasi Dana FIFA [FOTO: NET].

JAKARTA - FIFA bukan sekadar organisasi sepak bola terbesar di dunia, melainkan juga salah satu lembaga olahraga dengan kekayaan melimpah. Seiring berlangsungnya Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya melibatkan 48 tim di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pemasukan FIFA diprediksi menyentuh rekor baru. 

Berdasarkan laporan The Athletic, FIFA menargetkan pendapatan senilai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 235,25 triliun untuk siklus 2023-2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 9 miliar dollar AS atau Rp 162,87 triliun diperkirakan masuk pada 2026, yang hampir seluruhnya bersumber dari gelaran Piala Dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, berulang kali menegaskan bahwa setiap dolar yang diperoleh FIFA akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola. 

Namun, di balik pernyataan tersebut, besarnya pendapatan, cadangan kas, hingga sejumlah kontroversi membuat pengelolaan keuangan FIFA terus menjadi perhatian publik.

Pemasukan terbesar FIFA berasal dari hak siar televisi, yang menyumbang sekitar 68 persen dari total pendapatan. Selain itu, FIFA meraup dana dari penjualan tiket, paket hospitality, sponsor global, lisensi komersial, hingga turnamen baru seperti Piala Dunia Antarklub.

 Hak siar televisi tetap menjadi mesin uang utama dengan nilai kontrak yang terus meningkat, meski FIFA sempat mengalami kendala penjualan di pasar seperti China dan India. Sebaliknya, pasar Timur Tengah dan Afrika Utara justru berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.

Penjualan tiket juga menyumbang pendapatan besar. Dengan format baru yang menyajikan 104 pertandingan dan ketersediaan sekitar 6,7 juta tiket, FIFA diprediksi memecahkan rekor pendapatan tiket dan hospitality. 

Kendati demikian, penerapan strategi dynamic pricing menuai kritik karena harga dianggap terlalu mahal, bahkan memicu penyelidikan di Amerika Serikat terkait dugaan praktik penjualan yang menyesatkan. Di sektor sponsor, FIFA menikmati lonjakan pendapatan berkat kerja sama dengan perusahaan global, termasuk Aramco serta dukungan dana dari Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi.

Meskipun berstatus organisasi nirlaba, FIFA mengelola dana dalam jumlah sangat besar. FIFA menargetkan pengeluaran sekitar 12,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 233,44 triliun selama periode 2023-2026 untuk berbagai turnamen, program pengembangan, bantuan kepada 211 federasi anggota, hingga operasional organisasi. 

Salah satu program utamanya adalah FIFA Forward, yang telah mengalokasikan lebih dari 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 90,48 triliun dalam satu dekade terakhir untuk infrastruktur dan pembinaan pemain muda.

Penyelenggaraan Piala Dunia merupakan pos pengeluaran terbesar. FIFA menganggarkan sekitar 3,76 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,99 triliun untuk Piala Dunia 2026, mencakup hadiah peserta, biaya operasional, hingga kompensasi klub. 

Selain itu, biaya operasional organisasi termasuk gaji pegawai dan administrasi mencapai hampir 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 18,10 triliun per siklus. Gaji Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada 2025 dilaporkan mencapai sekitar 6 juta dollar AS atau sekitar Rp 108,58 miliar.

Hingga akhir 2025, FIFA memiliki cadangan kas sekitar 2,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 48,86 triliun, dengan total aset keuangan mencapai hampir 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 108,58 triliun. Dana tersebut menghasilkan keuntungan tambahan melalui investasi obligasi dan bunga deposito.

 Meski keuangan sangat sehat, FIFA tetap menghadapi kritik terkait harga tiket, independensi organisasi, hingga transparansi dalam alokasi dana agar sepak bola tidak dipandang semata sebagai bisnis raksasa.

Terkini