Timah

Lonjakan Harga Timah Global Berpotensi Dongkrak Kinerja PT Timah Tbk Secara Signifikan

Lonjakan Harga Timah Global Berpotensi Dongkrak Kinerja PT Timah Tbk Secara Signifikan
Lonjakan Harga Timah Global Berpotensi Dongkrak Kinerja PT Timah Tbk Secara Signifikan

JAKARTA - Harga timah dunia mengalami lonjakan luar biasa yang bisa menjadi katalis positif bagi PT Timah Tbk (TINS). Kenaikan ini menarik perhatian investor dan analis karena berdampak langsung terhadap penjualan dan kinerja keuangan perseroan.

Kenaikan Harga Timah dan Faktor Global

Berdasarkan data Trading Economics, harga timah di pasar global mencapai US$ 51.955 per ton pada Selasa, 3 Februari 2026. Dalam sebulan terakhir, harga timah melesat 28,10%, dan naik 72,60% dalam setahun terakhir secara year on year (yoy).

Kenaikan harga ini didorong oleh sentimen pasar terkait isu pasokan. Division Head Corporate Secretary PT Timah Tbk Rendi Kurniawan menyebut hal ini terkait pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta izin ekspor di Indonesia.

Selain itu, pemulihan pasokan yang lambat dari Myanmar turut memperketat ketersediaan timah global. Larangan ekspor timah di Republik Demokratik Kongo (DRC) selama enam bulan sejak akhir November 2025 juga menambah tekanan pasokan.

Menurut Rendi, kenaikan harga timah berdampak positif terhadap harga jual logam timah ke konsumen PT Timah. Hal ini khususnya terasa pada penjualan ekspor yang berkontribusi signifikan pada kinerja perseroan.

Prospek Kinerja PT Timah Tbk di Tengah Kenaikan Harga

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai tren kenaikan harga timah akan mendorong prospek bisnis TINS. Kinerja keuangan perseroan berpotensi tumbuh dobel digit berkat leverage pada sisi operasi.

Meski begitu, TINS harus mampu menggenjot kapasitas produksi secara maksimal. Hal ini penting agar momentum kenaikan harga timah dapat dimanfaatkan secara optimal sembari menjaga disiplin biaya operasional.

“Fokus TINS ada pada strategi volume dan efisiensi,” imbuh Wafi, Senin, 2 Februari 2026. Strategi ini diharapkan membantu perusahaan mempertahankan keuntungan di tengah fluktuasi harga global.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan tren kenaikan harga timah akan mengerek average selling price (ASP) TINS pada 2026. Syaratnya, perusahaan harus menjaga kemampuan produksi bijih timah dan logam timah sepanjang tahun berjalan.

Fundamental TINS dinilai cukup positif, dengan arus kas membaik dan risiko gangguan tambang ilegal yang menurun. Kondisi ini mendukung strategi perusahaan untuk lebih ekspansif di sektor hilirisasi timah dan proyek pengembangan logam tanah jarang (LTJ).

Strategi dan Tantangan PT Timah Tbk

Kenaikan tajam harga timah memberikan kesempatan bagi TINS untuk mempercepat proyek hilirisasi. Perseroan dapat menggunakan arus kas yang kuat untuk memperdalam pengembangan logam tanah jarang di Indonesia.

Namun, tantangan terbesar adalah kompleksitas teknologi ekstraksi LTJ. Selain itu, pengamanan rantai pasok bijih dari penambang rakyat menjadi penting agar tidak bocor ke jalur ilegal.

Wafi merekomendasikan beli saham TINS dengan target harga di level Rp 3.200 per saham. Rekomendasi ini berdasarkan potensi kinerja keuangan yang membaik dan peluang ekspansi bisnis yang besar.

Di sisi lain, Nafan menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham TINS. Strategi ini didasarkan pada kebutuhan memastikan produksi dan pasokan tetap stabil sebelum mengambil keputusan investasi.

Kenaikan harga timah tidak hanya berdampak pada penjualan dan profitabilitas TINS. Pergerakan harga ini juga memengaruhi strategi investasi jangka panjang dan pengembangan teknologi hilirisasi logam.

Prospek bisnis TINS semakin menarik karena dukungan global terhadap permintaan timah tetap kuat. Negara-negara konsumen utama memperkirakan kebutuhan timah akan terus meningkat, terutama untuk industri elektronik dan baterai.

Perusahaan perlu menjaga keseimbangan antara volume produksi dan efisiensi biaya. Kedisiplinan operasional menjadi kunci agar kenaikan harga timah dapat diterjemahkan menjadi laba bersih yang optimal.

Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan momentum harga untuk memperluas pasar ekspor. Harga jual logam timah yang tinggi memungkinkan TINS meningkatkan kontribusi pendapatan dari luar negeri.

Tren kenaikan harga timah juga memberi dampak psikologis positif bagi manajemen dan investor. Keyakinan terhadap potensi keuntungan mendorong keputusan strategis yang lebih agresif di bidang hilirisasi.

Kondisi pasar global yang terbatas pasokan mendukung posisi TINS sebagai pemain utama. Dengan kapasitas produksi yang memadai, perseroan bisa memanfaatkan peluang ekspor maksimal.

Investor pun mulai memantau pergerakan saham TINS dengan lebih intens. Lonjakan harga timah menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar saham komoditas.

Dengan strategi yang tepat, TINS memiliki peluang untuk mencatat pertumbuhan laba signifikan pada 2026. Hal ini akan memperkuat posisi perusahaan di sektor pertambangan timah global.

Kesimpulannya, lonjakan harga timah dunia menjadi katalis bagi PT Timah Tbk untuk memperkuat kinerja. Pemanfaatan momentum ini melalui peningkatan produksi, efisiensi biaya, dan ekspansi hilirisasi akan menjadi kunci keberhasilan perseroan sepanjang tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index