Strategi Telkom Jaga Ekspansi Jaringan saat Rupiah Melemah

Strategi Telkom Jaga Ekspansi Jaringan saat Rupiah Melemah
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk [FOTO : NET].

JAKARTA- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) memberikan tanggapan terkait melonjaknya harga bahan baku sebagai imbas dari perkasanya dolar Amerika Serikat (AS), termasuk material high-density polyethylene (HDPE) yang digunakan sebagai pelindung kabel, yang dinilai berimbas pada biaya pembangunan infrastruktur jaringan.

VP Corporate Communication Telkom, Andri Herawan Sasoko, menjelaskan bahwa selaku perusahaan digital telco yang terus mematangkan infrastruktur digital, Telkom selalu memantau dinamika kondisi global, termasuk efeknya terhadap nilai tukar serta ongkos investasi.

“Namun demikian, dampak tersebut tetap dapat dikelola melalui perencanaan investasi yang matang dan pengelolaan investasi yang prudent,” kata Andri, Jumat (12/6/2026).

Dalam merealisasikan investasi, lanjut Andri, Telkom mengimplementasikan metode belanja modal (capex) yang disiplin serta berbasis pada kebutuhan pasar (demand-driven), dengan tetap berfokus pada keberlanjutan usaha dan pembentukan nilai jangka panjang. 

Strategi tersebut dijalankan lewat prioritas pembangunan pada wilayah-wilayah yang memiliki kebutuhan, potensi pertumbuhan, serta nilai ekonomi yang tinggi.

Di samping itu, Telkom memaksimalkan penggunaan infrastruktur yang sudah ada guna menggenjot efisiensi investasi, memperkokoh sinergi serta kolaborasi di internal grup perusahaan demi menjaga efektivitas biaya, serta menjalankan pengelolaan investasi secara selektif dan terukur. 

Langkah ini mencakup penyesuaian bertahap terhadap lini masa proyek jika diperlukan, tanpa merubah arah strategis korporasi.

Selaras dengan program transformasi TLKM 30, Andri memaparkan, Telkom juga terus mempertahankan kondisi arus kas yang sehat lewat pengaplikasian strategi efisiensi biaya total (totex). 

Melalui beraneka inisiatif tersebut, Telkom memastikan aktivitas pemeliharaan serta pembangunan jaringan tetap berjalan secara berkelanjutan dan terukur di tengah volatilitas nilai tukar dan tekanan ekonomi makro.

Lewat langkah tersebut, perluasan infrastruktur dapat terus digulirkan sesuai keperluan pasar dengan tetap menjaga kualitas layanan serta pengalaman para pelanggan.

“Sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai enabler ekosistem digital Indonesia,” kata Andri.

Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mengungkapkan bahwa kenaikan harga komoditas bahan baku, termasuk HDPE untuk pelindung kabel, turut memberikan tekanan pada pengerjaan konstruksi jaringan.

Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy, menyebutkan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah menjadi atensi sektor teknologi informasi dan telekomunikasi lantaran sebagian besar perangkat TI serta sarana jaringan telekomunikasi di tanah air masih bertumpu pada komponen dan produk impor.

Berdasarkan pandangan Jerry, penurunan kurs rupiah membuka celah bagi lonjakan harga bermacam alat TI, seperti halnya laptop, server, peranti jaringan, hingga komponen impor lainnya.

“Selama 1 tahun terakhir harga memang sempat membaik setelah meredanya krisis cip global. Namun, pelemahan mata uang dapat menekan biaya impor,” kata Jerry.

Perangkat yang berisiko ikut terdampak di antaranya meliputi laptop serta komputer pribadi (PC) yang memakai komponen impor, server beserta perangkat penyimpanan data (storage), peranti jaringan semisal router, switch, dan firewall, hingga komponen pelengkap layaknya chipset, modul memori, unit catu daya (PSU), serta periferal lainnya.

Menurut Jerry, bagi para distributor serta integrator, dampak penurunan kurs biasanya langsung membebani ongkos pengadaan.

 Beberapa pelaku industri memproyeksikan kenaikan harga bisa menyentuh angka 5% hingga 10%, bergantung pada rentang waktu pelemahan rupiah serta ikatan kontrak pengadaan dari tiap-tiap vendor.

Pada sektor telekomunikasi yang menjadi perhatian utama Apjatel, tingkat ketergantungan pada komponen impor dinilai jauh lebih tinggi. 

Pembengkakan biaya berpeluang menerpa sejumlah komponen krusial, seperti kabel fiber optik (FO), aksesori jaringan FO semisal patch cord, splitter, closure, dan drop core, peranti aktif seperti optical line terminal (OLT), optical network terminal/optical network unit (ONT/ONU), optical distribution frame (ODF), hingga optical distribution cabinet (ODC). Selain itu, peranti penyokong jaringan metro, transportasi, serta macam-macam alat teknis lainnya juga berpotensi mengalami kenaikan harga.

Jerry menyampaikan, mayoritas dari komponen tersebut masih memanfaatkan bahan baku atau modul impor, sehingga melemahnya rupiah mendongkrak biaya pengerjaan jaringan baru maupun perluasan kapasitas.

 Pelaku sektor ini mengestimasi penyesuaian harga berada pada rentang 5% hingga 12%, bergantung pada vendor, negara produsen, serta sistem pembayaran yang disepakati.

Ia mengimbuhkan bahwa ongkos upah tenaga kerja pada pengerjaan konstruksi jaringan, seperti penarikan jaringan fiber, pemeliharaan, serta instalasi di pelanggan sejatinya tidak terimbas langsung oleh dinamika kurs. 

Namun dalam pelaksanaannya, pihak kontraktor serta penyedia jasa kerap kali harus menyelaraskan tarif akibat naiknya harga perangkat dan material pelengkap, kebutuhan peremajaan alat kerja yang mayoritas berbasis impor, serta pergeseran struktur ongkos operasional imbas fluktuasi ekonomi.

“Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat,” kata Jerry.

Apjatel berpandangan bahwa kondisi melemahnya rupiah harus disikapi lewat bermacam tindakan mitigasi, mulai dari optimalisasi persediaan stok serta perencanaan pengadaan agar tidak terbeban fluktuasi jangka pendek, negosiasi bersama vendor global guna meraih skema pembayaran yang lebih stabil, menggenjot penyerapan komponen lokal yang memenuhi parameter kualitas, hingga bersinergi dengan pemerintah demi menjaga kesehatan ekosistem industri di tengah tekanan mata uang.

“Apjatel juga mendorong seluruh anggota untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tetap berjalan, karena konektivitas adalah kebutuhan dasar masyarakat dan fondasi ekonomi digital,” kata Jerry.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index