Kadin Indonesia Respons Keluhan Pengusaha China di Tanah Air

Kadin Indonesia Respons Keluhan Pengusaha China di Tanah Air
Anindya Bakrie Jawab Keluhan Pengusaha China Terkait Regulasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan komitmennya untuk merespons berbagai keluhan yang sempat disampaikan pengusaha China di Indonesia.

"Kita semua juga mengetahui tentang surat dari Kamar Dagang China kepada Indonesia. Menurut saya, cara terbaik untuk menanggapi hal itu adalah dengan datang langsung dan menjelaskan bagaimana kami melihat persoalan tersebut dari sudut pandang sektor swasta," kata Anindya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, Minggu (21/6/2026).

Anin, sapaan akrab Anindya, berkunjung ke China untuk menghadiri rangkaian acara seperti China International Supply Chain Expo, APEC CEO Forum, Summer Davos 2026, serta pertemuan dengan berbagai mitra.

Sebagaimana diketahui, Kamar Dagang China di Indonesia pada Mei 2026 telah melayangkan surat resmi kepada Presiden RI Prabowo Subianto yang menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah serta berbagai kekhawatiran yang muncul. 

Dalam surat tersebut, para investor China mengungkapkan adanya dinamika perubahan kebijakan yang menimbulkan kendala serius, mulai dari regulasi yang terlalu ketat, penegakan hukum berlebihan, hingga isu korupsi serta pemerasan oleh otoritas terkait.

"Kami sudah melakukan dialog dari waktu ke waktu, memang cara mereka untuk menyampaikan keluhan itu agak mengagetkan tapi diplomasi, pembicaraan, percakapan, memang penting dilakukan, karena itu saya ke sini karena kami mesti jelaskan langsung," ungkap Anin.

Ia menyatakan keinginannya untuk menjawab persoalan tersebut sekaligus memastikan apakah surat itu benar-benar merepresentasikan seluruh pengusaha China.

"Mungkin memang ada keluhan, tapi bukan dari seluruh pengusaha, jadi saya tidak menafikan karena seperti dalam bisnis, 'customer service' memang penting kalau klien tidak hapi kami harus datang dan ajak bicara persoalannya," tambah Anin.

Anin menekankan bahwa China tetap menjadi mitra strategis bagi Indonesia dengan kontribusi perdagangan dan investasi yang masif.

"Saya rasa memang China sangat strategis, sangat penting dan punya hubungan yang saling menguntungkan dengan Indonesia, hal yang ingin saya tekankan adalah bukan hanya perdagangan tapi juga investasi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan sumber daya manusia bisa kami pelajari dari China," tegas Anin.

Menurut Anin, China memiliki keunggulan signifikan di sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, teknologi, hingga pertanian.

"Pada akhirnya, sektor swasta berfokus pada penciptaan kegiatan ekonomi melalui perdagangan dan investasi. Kami tidak mengenal batas, dan biasanya kami juga tidak terlalu formal dalam bicara yang terkadang justru membantu untuk memuluskan sesuatu," jelas Anin.

Data mencatat nilai perdagangan bilateral Indonesia-China sepanjang 2025 mencapai 167,48 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia tumbuh 16,7 persen. 

Jika ditambah dengan Hong Kong, total perdagangan mencapai 173 miliar dolar AS. Sementara itu, total investasi gabungan dari China dan Hong Kong pada 2025 mencapai sekitar 18 miliar dolar AS, menjadikannya sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.

Kendati demikian, Kamar Dagang China di Indonesia telah menyampaikan protes kepada Presiden Prabowo Subianto, di antaranya mengenai kenaikan pajak dan royalti sumber daya mineral, pemeriksaan pajak yang intensif, hingga denda besar yang menimbulkan kepanikan perusahaan. 

Keluhan lain mencakup kewajiban penempatan devisa hasil ekspor di bank negara, serta protes terhadap pengurangan kuota tambang bijih nikel lebih dari 70 persen dan kenaikan Harga Patokan Mineral (HPM) yang memicu lonjakan biaya hingga 200 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index