JAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah bersiap melakukan transisi menuju sistem pertanian yang rendah emisi karbon melalui penerapan praktik berkelanjutan, selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) 2025-2029.
“Indonesia saat ini sedang mempersiapkan inisiatif untuk mempromosikan sistem pertanian padi rendah emisi khususnya pada wilayah produksi hasil rendah dan menengah,” kata Kepala Biro Kerja Sama Pertanian Kementerian Pertanian Ade Candradijaya pada sambutan virtual di sela Dialog Transformasi Padi Berkelanjutan Organisasi PBB Bidang Pangan dan Pertanian (FAO) di Sanur, Bali, Senin.
Menurutnya, inisiatif tersebut mengutamakan pendekatan terukur guna mengurangi emisi, sekaligus menjaga tingkat produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Penggunaan teknologi digital pun dinilai sebagai peluang besar, di mana sistem data yang ada turut mendukung produksi padi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kementerian Pertanian kini memperkuat produksi beras nasional melalui berbagai langkah, seperti investasi di sektor irigasi, perbaikan sistem pembenihan, hingga pendampingan langsung bagi petani.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pencapaian ketahanan pangan tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan produktivitas.
Aksi keberlanjutan yang mencakup pengelolaan sumber daya air, menjaga kesehatan tanah, adaptasi terhadap iklim, serta efisiensi produksi juga sangat diperlukan.
Untuk mempercepat target pertanian rendah emisi tersebut, Pemerintah Indonesia menghargai dukungan dari mitra internasional dan lembaga pendanaan seperti Global Environment Facility (GEF), FAO, Bank Dunia, UNDP, serta mitra lain dalam Program Terintegrasi Sistem Pangan (FSIP).
“Program ini menyediakan wadah penting untuk memajukan pendekatan terpadu yang mendukung produksi pangan, keberlanjutan lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati dan ketahanan iklim,” imbuhnya kepada puluhan delegasi dari 12 negara di Asia dan Afrika yang kumpul dalam dialog itu di Bali.
FSIP merupakan inisiatif yang dipimpin oleh FAO dan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) dengan dukungan GEF.
Dengan dana hibah GEF mencapai lebih dari 280 juta dolar AS dan total investasi sekitar 2,2 miliar dolar AS, FSIP memprioritaskan sektor pangan utama seperti padi, gandum, dan jagung. Selain itu, program ini juga menyasar komoditas global seperti kakao, minyak sawit, kedelai, peternakan, serta akuakultur, dengan menerapkan sistem pertanian terpadu dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Data FAO tahun 2023 mencatat bahwa emisi dari sistem pangan dan pertanian global mencapai 16,5 miliar ton setara karbon dioksida, atau menyumbang sekitar 32 persen dari total emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.