Indofarma Optimistis Berbalik Laba pada 2026 Lewat Ragam Strategi

Indofarma Optimistis Berbalik Laba pada 2026 Lewat Ragam Strategi
Kebut Pemulihan, INAF Atur Siasat Efisiensi dan Dorong Ekspor [FOTO: NET].

JAKARTA – Emiten yang tergabung dalam holding Biofarma, PT Indofarma Tbk. (INAF) masih menaruh rasa percaya diri untuk mampu membalikkan kinerja menjadi laba pada tahun ini, kendati serangkaian bayang-bayang kerugian finansial masih membayangi perseroan.

Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing, menerangkan kendati tantangan gejolak nilai tukar rupiah dan risiko kerugian masih menghantui perseroan pada tahun ini, tetapi sederet langkah taktis telah dipersiapkan perusahaan agar mampu membukukan keuntungan pada tahun ini. 

Salah satu strategi yang digulirkan perseroan yakni secara proaktif melangsungkan negosiasi bersama para mitra pemasok bahan baku guna mendapatkan kepastian harga jual di koridor tingkat toleransi yang masih sanggup diakomodasi oleh perseroan.

”Tahun ini kami tetap optimistis sebetulnya karena walaupun memang ada kondisi pelemahan rupiah, kami terus berkomunikasi dengan para stakeholder kami, yaitu terutama pihak pemasok bahan baku dan kami melakukan negosiasi,” katanya kepada wartawan dalam RUPST Indofarma, Kamis (25/6/2026).

Di samping itu, Sahat menegaskan bahwasanya iklim bisnis perseroan saat ini sudah berjalan pada level yang lumayan efisien. 

Sepanjang tahun buku 2025, aksi penghematan masif telah dieksekusi oleh perusahaan dengan salah satu caranya berupa restrukturisasi portofolio usaha dan memfokuskan lini pada produk-produk yang mengantongi pangsa pasar solid. 

Konsekuensinya, Sahat mengklaim bahwa Indofarma tidak lagi mengambil opsi produk yang berpotensi menumpuk stok pasokan dan berujung pada kerugian baru. INAF dinyatakan benar-benar menjalankan tata kelola arus kas (cash flow) secara optimal.

”Itu salah satu mitigasi perusahaan untuk mendorong optimisme mencapai laba,” tegasnya.

Sebagai instrumen jalan lain demi membenahi performa perseroan ke depan, INAF saat ini tengah memacu utilisasi produk obat-obatan yang berbasiskan bahan alami. 

Siasat ini dilaporkan masih berada dalam koridor tahap pembahasan bersama pihak Danantara untuk keperluan ekspansi produk herbal.

Menilik aktivitas di lantai Bursa, pergerakan saham Indofarma telah dibekukan sementara atau disuspensi oleh pihak BEI sejak 2 Juli 2024. INAF bahkan dihadapkan pada ancaman delisting (penghapusan pencatatan saham) berhubung status suspensi tersebut telah berjalan melampaui kurun waktu 12 bulan.

Sahat memaparkan, pihaknya sejauh ini telah menjalin komunikasi dengan otoritas regulator dalam rangka mengupayakan pembukaan kembali suspensi yang telah menahun mengunci pergerakan saham INAF. 

Dia menandaskan, INAF bersikap adaptif dan terbuka terhadap segala opsi yang dapat dieksekusi sebagai entitas perusahaan terbuka ke depan.

”Kami akan berkoordinasi dengan regulator mengenai apa langkah selanjutnya, baru mungkin kami bisa sampaikan apa opsi-opsi yang akan kami tempuh,” katanya.

Jajaran manajemen INAF lewat surat resminya yang dilayangkan kepada BEI tertanggal 7 Januari 2026, memaparkan agenda pemulihan performa perseroan mencakup pengelolaan alur proses bisnis secara lebih selektif, penataan ritme aktivitas produksi dan distribusi, hingga pengetatan biaya operasional melalui langkah rasionalisasi struktur pengeluaran.

Langkah restrukturisasi kinerja di sepanjang tahun ini, bakal diakselerasi dengan melangsungkan penyeimbangan kembali portofolio usaha lewat penguatan andil produk farmasi, penciptaan produk yang bernilai kompetitif, optimalisasi jalinan kemitraan strategis, hingga peningkatan volume kinerja ekspor.

”Selain itu, perseroan menerapkan prinsip lean manufacturing melalui penataan proses produksi dan struktur organisasi, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi biaya pabrikasi, serta pelaksanaan efisiensi operasional secara menyeluruh,” kata manajemen.

Saat ini Indofarma menggantungkan harapan yang cukup besar pada ceruk pasar ekspor. Di sepanjang tahun lalu, performa penjualan ekspor Indofarma mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,9% secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Dinamika ini memperlihatkan indikator positif perihal daya saing komoditas dalam negeri di kancah pasar global. Teranyar, manuver perluasan jangkauan pasar dieksekusi Indofarma dengan menembus pasar Afghanistan.

Sahat Sihombing menjabarkan, perseroan berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan wilayah pasar ekspor dengan konsisten memperkuat mutu produk serta mendongkrak daya saing sektor industri farmasi nasional di pasar internasional.

“Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di pasar ekspor, Indofarma akan terus memperluas jangkauan pasar internasional, memperkuat kualitas produk, serta menghadirkan nilai tambah yang berkelanjutan. Kami meyakini bahwa produk farmasi nasional memiliki kemampuan untuk bersaing dan memperoleh kepercayaan di pasar global,” katanya.

Peluang Pemulihan Indofarma

Dari sudut pandang pengamat, kalangan analis memproyeksikan bahwasanya jalan yang musti dilalui INAF terhitung masih panjang untuk bisa menorehkan rapor kinerja positif di tahun ini. 

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, menganalisis bahwa tahapan restrukturisasi kewajiban utang serta pemulihan modal kerja bakal memerlukan jangka waktu yang relatif lama sebelum dapat memperlihatkan dampak konkret bagi INAF.

Kendati komparasi laporan keuangan tahunan INAF memperlihatkan adanya tren perbaikan pada pos bottom line yang mengecil berkat andil efisiensi, kans bagi INAF untuk benar-benar membalikkan keadaan guna memproduksi laba bersih di tahun ini dinilai masih cukup berat serta sarat akan tantangan.

”Upaya INAF dalam menekan beban pokok memang membantu mengurangi pendarahan finansial, tetapi jika tidak dibarengi dengan pemulihan top line yang signifikan, ruang untuk mencetak laba bersih akan sangat terbatas,” tegas Nafan, Kamis (25/6/2026).

Nafan melihat, rapor positif di sektor operasional mungkin mulai terdeteksi secara bertahap. Namun, guna merealisasikan perolehan laba bersih yang kokoh, INAF dipandang perlu mempercepat eksekusi atas taktik penyeimbangan portofolio bisnisnya.

Di sudut lain, Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis, mencermati setidaknya terdapat dua problem struktural yang bertindak sebagai akar polemik yang menjerat INAF. Faktor pertama, yakni tekanan pada profitabilitas pascalepas masa pandemi. 

Walaupun tren permintaan produk kesehatan beserta alat kesehatan sempat meroket tajam sepanjang periode pandemi, tetapi pascapandemi usai, timbul koreksi pendapatan yang masif pada beraneka lini bisnis INAF.

Faktor kedua, perusahaan musti berhadapan dengan tekanan imbas lonjakan harga komoditas bahan baku impor, pengeluaran operasional, pos biaya distribusi, hingga beban pembiayaan keuangan. Sederet variabel tersebut memicu margin keuntungan bergerak menipis atau bahkan menyentuh angka negatif.

”Selain kedua hal tersebut, terdapat juga beban utang dan kewajiban keuangan serta persaingan industri farmasi yang semakin ketat,” katanya, Kamis (25/6/2026).

Kondisi ini diperparah dengan realitas industri farmasi saat ini yang dihadapkan pada tren depresiasi nilai tukar rupiah serta volatilitas geopolitik yang memicu pembengkakan ongkos produksi. 

Alrich mengalkulasi, bagi entitas perusahaan farmasi yang kondisi finansialnya tengah dalam fase pemulihan, lonjakan biaya bahan baku bakal memberikan tekanan ekstra pada margin laba.

”Risiko inflasi medis memang meningkatkan potensi kerugian, tetapi tidak otomatis menggagalkan proses pemulihan yang sedang berlangsung,” tegasnya.

Walau demikian, INAF dipandang mendekap beberapa poin keunggulan strategis, misalnya statusnya selaku BUMN di sektor farmasi, kekuatan merek yang sudah melekat di memori masyarakat, diversifikasi portofolio produk yang cukup bervariasi, sampai potensi meraup berkah dari program kemandirian farmasi nasional. 

Terlebih lagi, pihak otoritas pemerintah kini dilaporkan konsisten menggalakkan pengurangan keterikatan terhadap komponen bahan baku impor serta memacu produktivitas dalam negeri.

”Apabila kebijakan tersebut berjalan efektif, INAF berpotensi menjadi salah satu perusahaan yang memperoleh manfaat dalam jangka panjang,” kata Alrich.

Senada dengan hal itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, menilai nilai plus INAF bertumpu pada statusnya sebagai BUMN farmasi yang memberikan kemudahan akses terhadap program-program besutan pemerintah, kepemilikan jaringan distribusi nasional yang telah mapan (established), hingga kekuatan produk obat generik yang populer di segmen pasar kelas bawah.

”Tapi keunggulan ini belum cukup mengompensasi beban struktural dan tanpa restrukturisasi tuntas dan fresh capital, keunggulan operasional tidak bisa termonetisasi optimal,” katanya, Kamis (25/6/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index