Alasan ARKO Sebut PLTA Lebih Kompetitif dari PLTS

Alasan ARKO Sebut PLTA Lebih Kompetitif dari PLTS
ARKO: PLTA Lebih Ekonomis dari PLTS Tanpa Investasi Baterai [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) berpendapat bahwa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tetap mempunyai daya saing ekonomi yang kokoh jika disandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang menggunakan kombinasi baterai, khususnya dalam menyuplai kebutuhan listrik beban dasar (base load) untuk jangka panjang.

Head of Investor Relations Arkora Hydro Nicko Yosafat mengutarakan bahwa dalam lingkup global biaya pembangkitan listrik (levelized cost of electricity/LCOE) PLTA memang sedikit di atas PLTS.

 Akan tetapi, komparasi tersebut belum memasukkan kalkulasi pengeluaran penyimpanan energi yang diperlukan supaya PLTS bisa mendistribusikan listrik secara konsisten di luar durasi matahari memancar.

Merujuk data International Energy Agency (IEA), rata-rata LCOE PLTA pada 2024 menyentuh angka US$0,057 per kWh, sedangkan PLTS berada di angka US$0,043 per kWh. 

Namun, Nicko memaparkan bahwa sistem PLTS memerlukan baterai demi menjaga stabilitas pasokan setrum. 

Mengacu riset National Renewable Energy Laboratory (NREL), biaya ekstra (storage premium) untuk sistem PLTS terintegrasi baterai menyentuh US$23–39 per MWh di atas LCOE PLTS tanpa alat penyimpanan.

"Begitu faktor penyimpanan energi diperhitungkan, keekonomian PLTS plus baterai bisa menjadi setara atau bahkan lebih mahal dibandingkan PLTA, terutama jika PLTA sudah melewati masa pengembalian investasi awal yang hanya sekitar 5–7 tahun tergantung dari size-nya," ujarnya, dikutip Minggu (29/6/2026).

Menurut dia, disparitas fundamental dari kedua teknologi ini berada pada aspek karakteristik pembangkitnya. 

PLTA sanggup menyalurkan listrik secara konstan selama 24 jam tanpa perlu biaya tambahan untuk penyimpanan energi, sementara PLTS memerlukan pendanaan terpisah bagi sektor pembangkit sekaligus baterai.

"Yang membedakan PLTA secara fundamental adalah sifatnya sebagai pembangkit base load yang tidak memerlukan investasi tambahan untuk storage [penyimpanan], karena energi yang dihasilkan sudah stabil dan kontinu sepanjang hari. Sementara PLTS plus baterai pada dasarnya adalah dua investasi sekaligus, yakni pembangkitan dan penyimpanan, yang keduanya menambah beban investasi di awal proyek," katanya.

Oleh sebab itu, meskipun pendirian PLTA memerlukan pendanaan awal yang besar serta durasi konstruksi yang lebih lama, Nicko menganggap pengeluaran untuk memproduksi listrik yang andal (true cost of reliability) tetap bernilai kompetitif ketimbang teknologi lainnya.

"Dengan demikian, meskipun PLTA membutuhkan investasi awal yang besar dan masa konstruksi yang panjang, dari sisi true cost of reliability, PLTA berada pada posisi yang sangat kompetitif, khususnya untuk kebutuhan base load jangka panjang seperti yang dibutuhkan sistem kelistrikan Indonesia," ujarnya.

Arkora menganggap kebutuhan akan pembangkit base load dengan basis energi terbarukan bakal semakin krusial selaras dengan akselerasi transisi energi di dalam negeri. Hingga triwulan I/2026, porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia baru menyentuh 18,3%. 

Di sisi lain, pihak pemerintah mematok target penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 52,9 gigawatt (GW) sampai tahun 2034 lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Nicko mengemukakan sifat PLTA yang independen dari intensitas sinar matahari maupun laju angin menjadikannya sebagai salah satu teknologi penopang stabilitas sistem kelistrikan domestik. 

Di samping itu, menurutnya, kendala pasokan batu bara yang sempat terjadi serta tingginya biaya impor energi akibat dinamika kurs kian memantapkan posisi PLTA sebagai opsi energi domestik penunjang ketahanan energi.

"PLTA bersifat terbarukan dan tidak bergantung pada impor. Karena itu, PLTA masih menjadi sumber listrik yang andal untuk menopang transisi energi nasional dan menciptakan ketahanan energi yang sesungguhnya," kata Nicko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index