Harita Nickel Kebut Tiga Proyek Strategis di Pulau Obi

Harita Nickel Kebut Tiga Proyek Strategis di Pulau Obi
Genjot Produksi Nikel, NCKL Pacu Tiga Proyek di Pulau Obi [FOTO: NET].

JAKARTA — Emiten yang bergerak di bidang pertambangan serta hilirisasi nikel terpadu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel, sedang memacu penuntasan tiga proyek strategis mereka di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. 

Ketiga agenda utama tersebut mencakup infrastruktur pengolahan nikel Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ketiga, pabrik pengolahan batu kapur (limestone) menjadi quicklime, beserta fasilitas daur ulang sisa hasil pengolahan (tailing recycling).

Direktur Utama NCKL Roy Arman Arfandy memaparkan bahwa megaproyek smelter RKEF ketiga yang dieksekusi lewat entitas anak usaha PT Karunia Permai Sentosa (KPS) ini ditopang oleh total 12 jalur produksi dengan daya kapasitas terpasang menyentuh angka 185.000 ton nikel metal berwujud feronikel (FeNi) setiap tahunnya.

“KPS merupakan RKEF plan yang ketiga kami. Sedang dalam proses finalisasi,” ujarnya saat paparan publik secara daring, Selasa (30/6/2026).

Pihak perusahaan telah merampungkan konstruksi 10 lini produksi di sepanjang periode tahun 2025. Sementara itu, dua lini produksi pamungkas telah diselesaikan proses konstruksinya pada kuartal I/2026, yang menandai tuntasnya seluruh tahapan pembangunan fisik pada struktur utama pabrik.

 Saat ini, jajaran manajemen mulai menggulirkan peningkatan bertahap atau ramp-up aktivitas operasional pada deretan lini produksi tersebut guna menuju kapasitas operasional secara penuh.

Roy menyampaikan, perusahaan memasang target agar seluruh 12 lini produksi di bawah naungan KPS tersebut dapat beroperasi secara utuh dengan kapasitas paling maksimal pada penghujung tahun ini. 

Di sisi lain, guyuran pasokan ekstra dari KPS diproyeksikan sanggup mendongkrak akumulasi kapasitas terpasang feronikel milik Harita Nickel di Pulau Obi menjadi total 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.

Portofolio anyar tersebut bakal melengkapi dua infrastruktur pengolahan eksisting kepunyaan perseroan yang telah lebih dulu beroperasi secara penuh. 

Sebagai aspek informasi, fasilitas peleburan perdana perseroan dioperasikan melalui PT Megah Surya Pertiwi (MSP) yang dibekali kapasitas produksi sebesar 25.000 ton nikel per tahun. 

Selanjutnya, terdapat PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) yang mengelola secara penuh delapan jalur produksi dengan daya kapasitas terpasang mencapai 95.000 ton nikel per tahun.

Bukan cuma memacu angka output feronikel, Harita Nickel turut mempercepat pengerjaan proyek penunjang terintegrasi demi memangkas ketergantungan terhadap pos biaya eksternal. 

Salah satu langkahnya diwujudkan lewat pembangunan pabrik kapur tohor atau quicklime melalui perusahaan patungan (joint venture) PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM). 

Entitas usaha ini mengemban tugas untuk memproduksi quicklime, yang bertindak sebagai komponen kimia penunjang utama di dalam tahapan pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit) pada fasilitas hidrometalurgi berbasis High-Pressure Acid Leach (HPAL).

“CKM akan menghasilkan quicklime untuk digunakan oleh dalam proses HPAL maupun di PT Halmahera Persada Lygend maupun di Obi Nickel Cobalt, keduanya HPAL plant yang kami sudah beroperasi di Pulau Obi,” ucap Roy.

Hasil produksi dari satu lini milik CKM tersebut nantinya akan langsung dialokasikan guna memasok kebutuhan operasional dari dua fasilitas HPAL eksisting milik korporasi yang dikelola oleh anak usaha, yaitu PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index