Raup Laba Rp 1,58 T, Mandiri Taspen Bidik Kategori KBMI III

Raup Laba Rp 1,58 T, Mandiri Taspen Bidik Kategori KBMI III
Bank Mandiri Taspen Targetkan Naik Kelas ke KBMI III pada 2028 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) membidik langkah naik kelas menuju golongan Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) III pada 2028. Sasaran tersebut bakal ditempuh dengan memperkokoh struktur permodalan serta menstimulasi pertambahan aset secara organik melalui akumulasi laba ditahan, tanpa bertumpu pada penambahan modal lewat aksi korporasi rights issue.

Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mantap Agus Syaiful Anwar memaparkan, keperluan permodalan perseroan pada saat ini telah dipenuhi secara mandiri. 

Keadaan itu membuat Bank Mantap menaruh rasa optimis sanggup memasuki kategori KBMI III dalam rentang tiga tahun ke depan tanpa perlu menggelar rights issue.

Agus menyebutkan, situasi ini berlainan jika dikomparasikan dengan beberapa tahun lampau ketika Bank Mantap masih bertumpu pada kucuran modal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Taspen (Persero).

Pada tahun 2017, keuntungan Bank Mantap baru berkisar di angka Rp 50 miliar. Kala itu, ekspansi lini bisnis disokong oleh penambahan modal lewat rights issue yang didukung penuh para pemilik saham. Pola tersebut berjalan sampai tahun 2020.

Sejak tahun 2020, keperluan permodalan mulai dipasok dari pertumbuhan performa usaha perusahaan. Keadaan itu tecermin melalui rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang saat ini sudah berada di atas level 30 persen. 

Angka ini terhitung lebih tinggi dikomparasikan rata-rata CAR industri perbankan yang bertengger di kisaran 18 persen sampai 20 persen, ataupun regulasi batas minimum dari pihak otoritas di kisaran 10 persen sampai 12 persen.

“Jadi sebenarnya kalau kami bicara bank itu rata-rata gitu ya, rata-rata itu di kisaran 18 sampai 20 persen. Karena kalau untuk regulatory sendiri kan mensyaratkan kurang lebih di kisaran 10 sampai 12 gitu ya. Jadi kami sebenarnya sudah beyond secara permodalan,” ujar Agus dalam media gathering di Denpasar, Sabtu (4/7/2026).

Keuntungan bersih Bank Mantap pada 2025 menyentuh angka Rp 1,58 triliun. Perseroan mendistribusikan 10 persen dari keuntungan itu sebagai dividen bagi para pemilik saham, sementara sisanya dikonversikan menjadi laba ditahan.

“Jadi memang sisanya kami putar lagi dalam bentuk modal ditahan. Nah, ini yang mempercepat atau mengakselerasi pertumbuhan permodalan,” paparnya.

Agus mengutarakan, prasyarat modal inti minimum guna menembus kategori KBMI III berada di angka Rp 14 triliun. Pada saat ini, modal inti kepunyaan Bank Mantap sudah menyentuh kisaran Rp 10 triliun.

Menurut dia, apabila performa korporasi dapat terus dipelihara, sasaran tersebut berpeluang besar diraih pada tahun 2028.

“Artinya tiga tahun lagi gitu ya, 2026, 2027, 2028, kalau kami performanya sama saja, artinya ya flat saja gitu ya 1,6 triliun, ya harusnya dalam tiga tahun ke depan kami sudah naik ke KBMI III gitu,” pungkas dia.

Di samping memantapkan permodalan, Bank Mantap mulai mengonsep taktik pertumbuhan jangka panjang lewat diversifikasi akomodasi layanan. Perseroan tetap mempertahankan konsentrasi utamanya pada segmen pasar pensiunan.

Agus menyebutkan, berkisar 99 persen portofolio kredit Bank Mantap masih bersumber dari kelompok pensiunan. Kendati begitu, perseroan mengalkulasi bahwa pertumbuhan jangka panjang memerlukan pasokan sumber bisnis baru.

“Karena 99 persen portofolio pembiayaan kami itu pensiunan. Nah, tapi kami sadar, tadi saya cerita bahwa sekarang kami sudah nomor dua, tahun depan kami optimis bisa jadi nomor satu. Terus what's next gitu? Kalau kami enggak punya cita-cita yang beyond gitu ya, kami akan segitu-segitu saja,” kata Agus.

Perseroan mulai meramu konsep 40 Plus dengan menyasar kelompok masyarakat yang menginjak usia berkisar 40 tahun supaya lebih matang menjelang masuknya masa pensiun.

“Konsep 40 Plus bukan berarti kami keluar dari segmen pensiun. Justru kami menjemput bola dengan mempersiapkan generasi usia 40 tahun ke atas supaya ketika pensiun mereka sudah merdeka secara finansial, sehat, aktif, dan tetap memiliki aktivitas produktif,” ucap dia.

Agus memaparkan, gagasan tersebut lahir dari beraneka masukan, termasuk dari hasil diskusi bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Bali.

“Masuk tiga tahun sebelum pensiun itu sebenarnya sudah terlambat. Karena pegawai aktif sejak usia sekitar 25 tahun sampai pensiun di usia 55 tahun menjalani rutinitas yang sama. Ketika tiga tahun menjelang pensiun baru ditawari membuka usaha, secara mental mereka belum siap karena usaha memiliki risiko untung maupun rugi,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Bank Mantap berkeinginan mendampingi para calon pensiunan sejak fase lebih dini lewat edukasi investasi serta bidang kewirausahaan. 

Perihal ekspansi menuju pembiayaan UMKM dan ritel, Agus menjamin perseroan bakal tetap membidik sektor UMKM yang berada di dalam lingkaran ekosistem pensiunan atau warga senior.

Bank Mantap pun bakal mereplikasi skema bisnis yang telah diaplikasikan di Bali ke wilayah-wilayah lain yang mempunyai karakteristik sejenis.

“Kalau nanti kami keluar dari Bali, bukan berarti meninggalkan Bali, tetapi mereplikasi model bisnis yang sudah berhasil di sini. Kualitas kredit di Bali sangat baik, NPL-nya sangat kecil sehingga secara operasional sudah terbukti aman,” tukas Agus.

Menurutnya, rendahnya rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di area Bali tidak lepas dari aspek karakter sosial warga setempat.

“Salah satu key success factor kualitas kredit di Bali adalah faktor budaya. Ada nilai-nilai yang membuat masyarakat menjaga komitmen mereka. Karena itu kami akan mencari daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki karakter perilaku yang kurang lebih mirip,” lanjut dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index