JAKARTA - Pernahkah kamu merasa bersyukur saat teman mendadak membatalkan rencana kumpul-kumpul? Nyatanya, fenomena ini sangat lumrah terjadi. Sebuah survei YouGov di Inggris pada 2019 bahkan menemukan bahwa hampir sepertiga orang sering kali justru merasa lega saat seseorang membatalkan rencana mereka.
Psikolog dan pelatih eksekutif bersertifikat (PCC), Dr. Anne Welsh, menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki banyak lapisan makna, mulai dari rasa kelelahan hingga tingginya kebutuhan akan ruang personal.
Membedah alasan di balik rasa lega saat batal janjian
Mengapa kamu merasa lega, tapi tetap membuat rencana? Ada banyak alasan mengapa kamu merasa bahagia saat rencana berubah. Pertama, batalnya acara mengembalikan waktu luangmu yang berharga. "Saat dibatalkan, hal itu bisa memberikan rasa bebas," ujar Welsh, melansir Parade, Senin (6/7/2026).
Kedua, pembatalan ini memberimu otonomi karena kini kamu punya pilihan penuh atas sisa waktu tersebut. Selain itu, ada rasa lega tersendiri karena bukan kamu yang membatalkannya. "Kami terhindar dari rasa bersalah atau perasaan mengecewakan orang lain," ujar dia.
Menariknya, hal ini tidak hanya dialami kaum introvert. Siapapun bisa merasakan kelegaan itu sebagai cerminan dari berbagai hal. Misalnya adalah stres, kelelahan, rasa lelah mengambil keputusan, tuntutan mengurus orang lain, terlalu banyak stimulasi sensorik, kecemasan sosial, atau kurangnya waktu istirahat.
Lantas, mengapa kamu tetap membuat rencana jika pada akhirnya merasa terbebani? Menurut Welsh, sering kali kamu setuju untuk membuat rencana karena merasa antusias di awal.
"Kami membuat rencana berdasarkan energi yang kami harap akan kami miliki, atau rasakan pada saat itu, dan baru menyadari bahwa kami sudah terlalu lelah saat waktunya tiba," jelas dia.
Welsh menambahkan bahwa rencana sebenarnya mencerminkan nilai-nilai seseorang untuk merawat hubungan dengan orang tersayang.
Di sisi lain, mungkin kamu hanya sekadar tidak enak hati. "Rencana tersebut mungkin tidak mencerminkan nilai kami dan hanya sekadar berkata 'ya' untuk menyenangkan orang lain. Kini, kami terbebas dari keharusan mengecewakan seseorang," ucap dia.
Sembilan karakter orang yang merasa lega karena batal janjian
Menurut Welsh, ada sembilan ciri yang biasanya melekat jika kamu sering bersyukur saat jadwal sosial batal, yakni sebagai berikut:
Sangat bertanggung jawab: Kamu menganggap serius kewajiban. Bagimu, rencana sosial bisa menjadi tekanan untuk melakukannya dengan "benar", dan akibatnya, hal itu bisa memicu kecemasan. Kelegaan muncul dari ketiadaan tuntutan untuk tampil maksimal.
Selalu ingin menyenangkan orang lain: Kamu sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, sehingga batalnya rencana menjadi celah untuk beristirahat tanpa harus mengecewakan kawan.
Memikul beban mental yang berat: Kamu sudah pusing mengurus tenggat kerja hingga urusan keluarga. "Bagimu, rencana yang batal berarti berkurangnya satu hal yang harus diingat, dikoordinasikan, dipersiapkan, dan dipulihkan," tutur Welsh.
Mudah antusias di awal: Kamu sering melebih-lebihkan waktu dan energimu. Ketika satu rencana hilang, kamu akhirnya mendapatkan ruang kosong yang selama ini dibutuhkan oleh jadwalmu yang lain.
Mudah kewalahan: Kamu butuh tenaga ekstra untuk beralih dari mode sibuk bekerja ke mode bersantai. Rencana yang batal memungkinkanmu menghemat energi transisi ini.
Kelebihan stimulasi: Kamu menyukai temanmu, tetapi tidak tahan dengan keramaian. Membatalkan rencana akan mengurangi rangsangan sensorik dan sosial tersebut.
Sangat mandiri: Kamu sangat menjaga kebebasan. Ketika suatu rencana batal, kamu tidak lagi harus berada di suatu tempat atau memainkan peran tertentu.
Punya kecemasan antisipatif: Kamu memiliki kecemasan sosial. Kamu menghabiskan banyak waktu dalam pikiran tersebut dan pembatalan akan meredakannya.
Sosok yang bisa diandalkan: Kamu mungkin adalah pengatur jadwal dalam pertemanan, sehingga batalnya acara adalah izin untuk berhenti sejenak mengurus orang lain.
Sinyal waspada yang perlu diperhatikan
Meskipun lumrah, kamu harus waspada jika kelegaan ini berubah menjadi kebiasaan menjauh dari lingkungan.
Jika kamu mengalami kelelahan terus-menerus, mudah marah, atau merasa setiap ajakan adalah beban berat, hal ini tidak boleh diabaikan. Terlebih, menghindar bisa menjadi kebiasaan yang menguat dengan sendirinya.
"Membatalkan rencana mungkin mengurangi kecemasan sesaat, tetapi jika seseorang semakin menarik diri dari hubungan yang mendukung atau mengalami tekanan yang signifikan di sekitar rencana sosial biasa, berbicara dengan profesional kesehatan mental mungkin bisa membantu," terang Welsh.