Budayawan Suwardi Endraswara: Tuyul Mitos Orang Kaya Baru Zaman Kolonial

Sabtu, 19 September 2026 | 11:53:00 WIB

KANALEKONOMI.ID — Tuyul dalam folklor Jawa bukan sekadar hantu pencuri uang, melainkan produk sejarah kecemburuan sosial petani terhadap pedagang kaya mendadak era kolonial. Budayawan Suwardi Endraswara mencatat praktik tuyul dilakukan dari rumah ke rumah, menyasar uang hingga surat berharga. Sampai kini tak ada catatan bank kehilangan uang gara-gara makhluk halus bertubuh anak kecil itu.

Pertanyaan soal mengapa tuyul tak mencuri uang di bank sebenarnya bisa dijawab lewat sejarah ekonomi, bukan lewat dunia gaib. Jawabannya berakar pada perubahan kebijakan kolonial Belanda tahun 1870 yang mengubah peta kekayaan di Jawa.

Kala itu Belanda meresmikan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi, menggantikan sistem tanam paksa. Perubahan aturan ini awalnya dipandang membawa angin segar bagi kesejahteraan rakyat.

Ketika Liberalisasi Melahirkan Orang Kaya Baru

Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), liberalisasi justru melahirkan rezim kolonial baru. Perkebunan rakyat diambil alih dan diubah menjadi perkebunan besar serta pabrik gula.

Petani kecil di Jawa terperosok makin dalam ke jurang kemiskinan. Mereka kehilangan kuasa atas lahan yang selama ini menjadi tumpuan hidup.

Di sisi lain, muncul kelompok yang justru menikmati sistem ini. Para pedagang, baik pribumi maupun Tionghoa, dalam sekejap berubah menjadi orang kaya baru.

Lompatan kekayaan mereka memicu keheranan para petani yang hidup kian melarat. Pertanyaan soal dari mana asal harta itu pun muncul di mana-mana.

Pandangan Petani: Kekayaan Harus Terlihat Prosesnya

Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019) menuliskan bahwa petani saat itu menganut sistem subsisten. Bertani sekadar cukup untuk konsumsi sendiri, sisanya dijadikan upeti atau dijual.

Dari pola hidup itu lahir pandangan bahwa pemupukan kekayaan adalah proses terbuka. Setiap orang mesti melewati usaha jelas yang bisa dilihat mata orang lain.

Masalahnya, para petani tak pernah menyaksikan kerja keras orang kaya baru tersebut. Ketika ditanya soal asal-usul hartanya, mereka juga tidak bisa membuktikan apa pun.

Rasa iri dan kecemburuan pun tumbuh. George Quinn dalam An Excursion to Java's Get Rich Quick Tree (2009) mencatat para petani meyakini datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan.

Kegagalan mempertanggungjawabkan asal harta membuat orang kaya dituduh mencuri. Karena masyarakat sangat kental dengan pandangan mistik, pencurian itu dianggap hasil kerja sama dengan makhluk supranatural.

Dari Tuduhan Setan ke Hilangnya Status Sosial

Suwardi Endraswara dalam Dunia Hantu Orang Jawa (2004) menuliskan kegiatan tuyul dilakukan dari rumah ke rumah. Pekerjaannya tak hanya mencuri uang, tetapi juga barang dan surat-surat berharga.

Biasanya praktik itu dilakukan seseorang yang tergila-gila akan kekayaan. Tuyul digambarkan sebagai makhluk halus berbadan kecil dan botak yang bisa dipelihara.

Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002) menambahkan, tuduhan bersekutu dengan setan membuat pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status. Mereka dianggap hina karena memupuk harta lewat cara haram.

Padahal kekayaan itu muncul akibat perubahan kebijakan kolonial yang membuat pengusaha tertimpa durian runtuh. Tuduhan tuyul lebih merupakan cermin ketimpangan, bukan laporan pencurian.

Mengapa Cerita Tuyul Tak Menyentuh Bank

Dampak tuduhan itu mengubah pola transaksi orang kaya. Mereka cenderung membeli barang yang tidak menunjukkan kekayaan sesungguhnya, seperti emas atau barang mewah.

Jika membeli tanah atau rumah, mereka langsung dituduh memelihara setan atau tuyul oleh petani. Popularitas tuyul sebagai subjek mistis soal kekayaan pun meningkat dan bertahan hingga kini.

Di internet berseliweran dugaan soal alasan tuyul tak mencuri uang di bank. Ada yang menyebut tuyul takut logam karena uang tersimpan di brankas, ada pula yang menyebut ada penjaga makhluk halus lain di bank.

Semua jawaban itu hanya dugaan atas hal yang memang tak logis. Yang pasti, cerita tuyul lahir dari kecemburuan sosial terhadap kekayaan yang tak terjelaskan asalnya, bukan dari kemampuan makhluk halus menembus brankas.

Terkini