Filipina Pertimbangkan Nyalakan PLTN Bataan yang Menganggur 40 Tahun

Filipina Pertimbangkan Nyalakan PLTN Bataan yang Menganggur 40 Tahun
Filipina Pertimbangkan Nyalakan PLTN Bataan yang Menganggur 40 Tahun

KANALEKONOMI.ID — Pemerintah Filipina tengah mengkaji opsi menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bataan yang telah menganggur selama empat dekade. Langkah ini diambil sebagai upaya melindungi negara dari guncangan harga energi global yang semakin sering terjadi. Namun, rencana tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan politisi dan masyarakat setempat.

PLTN Bataan terletak di Semenanjung Bataan, sekitar 100 kilometer barat Manila. Fasilitas ini selesai dibangun pada 1984 tetapi tidak pernah dioperasikan karena alasan keselamatan dan kontroversi politik. Kini, pemerintah Filipina menilai kembali potensi pembangkit berkapasitas 620 megawatt tersebut.

Menteri Energi Filipina menyatakan bahwa ketergantungan pada impor bahan bakar fosil membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. "Kami perlu sumber energi yang stabil dan mandiri," ujarnya dalam pernyataan resmi, seperti dikutip kantor berita setempat.

Mengapa Bataan Kembali Dibahas Setelah 40 Tahun Menganggur

Ketegangan geopolitik di Laut China Selatan dan sanksi ekonomi terhadap Rusia telah mengerek harga gas alam dan batu bara di pasar global. Filipina, yang mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, merasakan dampak langsung pada tagihan listrik rumah tangga dan biaya produksi industri.

Pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. memasukkan nuklir sebagai salah satu pilar bauran energi nasional. Targetnya, PLTN dapat berkontribusi pada pasokan listrik dasar sebelum akhir dekade ini. Selain Bataan, beberapa lokasi lain juga disebut sedang ditinjau.

Pihak yang Menolak: Risiko Gempa dan Warisan Kontroversi

Kelompok lingkungan dan sejumlah anggota parlemen menentang keras rencana tersebut. Mereka mengingatkan bahwa Filipina berada di Lingkaran Api Pasifik, jalur gempa dan letusan gunung berapi paling aktif di dunia. Insiden Fukushima di Jepang pada 2011 menjadi rujukan utama mereka.

"Menghidupkan kembali PLTN yang sudah lama tidak dirawat sama dengan menempatkan jutaan warga dalam bahaya," kata seorang perwakilan koalisi antinuklir Filipina. Ia menuntut kajian independen yang transparan sebelum keputusan final diambil.

Pemerintah berdalih bahwa teknologi reaktor generasi terbaru jauh lebih aman dibandingkan desain Bataan yang usang. Namun, biaya perbaikan dan penggantian komponen diperkirakan menelan dana besar. Belum ada angka resmi yang dipublikasikan.

Pelajaran dari Negara Tetangga dan Posisi ASEAN

Vietnam dan Indonesia juga tengah menjajaki pengembangan nuklir untuk kebutuhan energi masa depan. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menawarkan pendampingan teknis bagi negara-negara Asia Tenggara yang ingin membangun kapasitas nuklir sipil.

Pengamat energi dari Universitas Filipina menilai keputusan soal Bataan akan menjadi preseden bagi kawasan. "Jika Filipina berhasil menghidupkan kembali reaktor tua dengan standar keselamatan ketat, negara lain akan melihatnya sebagai model," katanya. "Sebaliknya, kegagalan akan mematikan minat nuklir di ASEAN untuk waktu lama."

Hingga kini, belum ada jadwal pasti kapan pemerintah akan mengumumkan keputusan akhir. DPR Filipina dijadwalkan menggelar dengar pendapat publik dalam beberapa bulan mendatang. Nasib PLTN Bataan masih menggantung di antara ambisi energi dan bayang-bayang bencana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index