Ekspansi Kredit Selektif, BRI Berhasil Jaga Kualitas Aset

Ekspansi Kredit Selektif, BRI Berhasil Jaga Kualitas Aset
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjalankan strategi ekspansi kredit secara selektif demi menjaga kualitas aset. 

Perseroan tidak hanya memacu percepatan penyaluran kredit, melainkan juga memastikan penyaluran ditujukan kepada segmen serta debitur yang memiliki profil risiko terukur.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menyampaikan bahwa strategi selective growth menjadi langkah perseroan untuk memelihara keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas kredit. 

Melalui pendekatan ini, BRI mengarahkan ekspansi pada sektor, segmen, serta nasabah yang tingkat risikonya sesuai dengan kapasitas pengelolaan perseroan.

“Setiap pertumbuhan harus memiliki kualitas yang baik sejak awal. Karena itu, pengelolaan risiko dilakukan secara end-to-end, mulai dari proses pipeline akuisisi dan seleksi debitur, monitoring kualitas kredit, hingga collection dan recovery,” ujar Ety, dikutip pada Sabtu (5/9/2026).

Langkah tersebut diterapkan di tengah tren pertumbuhan kredit BRI yang terus berekspansi. Sampai akhir Triwulan II/2026, penyaluran kredit serta pembiayaan BRI tumbuh sebesar 16,2% (year on year/YoY) menjadi Rp1.646 triliun. Capaian pertumbuhan ini berada di atas rata-rata industri perbankan.

Kendati mencatatkan pertumbuhan kredit yang signifikan, BRI mampu menjaga perbaikan pada sejumlah indikator risiko. 

Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) mengalami penurunan menjadi 2,9% pada akhir kuartal II/2026 dari sebelumnya 3% pada periode yang sama tahun lalu.

Tak hanya NPL, rasio loan at risk (LaR) BRI turut membaik menjadi 9,1% pada akhir kuartal II/2026 dibanding 9,6% pada akhir 2025.

 Tren penurunan ini menandakan adanya peningkatan kualitas pada portofolio kredit perseroan.

Ety menuturkan bahwa penguatan manajemen risiko menjadi elemen penting demi menjaga keberlanjutan bisnis, utamanya mengingat besarnya eksposur BRI di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Menurutnya, portofolio UMKM tidak sekadar berfungsi mendorong inklusi keuangan, tetapi harus dikelola sebagai bisnis dengan disiplin risiko yang ketat.

Di lain sisi, peningkatan kualitas kredit turut menekan biaya risiko perseroan. Cost of Credit (CoC) BRI tercatat turun menjadi 3,1% pada akhir kuartal II/2026 dari posisi 3,4% pada kuartal II/2025.

Selain itu, hingga kuartal II/2026, total aset BRI Group berhasil menyentuh Rp2.352 triliun atau naik 11,7% YoY, sedangkan laba bersih konsolidasian tercatat berada di angka Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% YoY.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index