KANALEKONOMI.ID — Penyurutan muka air di Sungai Barito, Mahakam, dan Kapuas menekan kapasitas angkut tongkang batubara dan mendorong risiko lebih tinggi pada asuransi marine cargo. PT Asuransi Asei Indonesia menilai gangguan iklim ini mulai mengubah cara perusahaan menghitung premi dan syarat polis.
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan membuat tongkang batubara tidak lagi bisa berlayar dengan muatan penuh. Di beberapa titik, operator terpaksa mengurangi volume angkutan agar kapal tidak kandas di jalur sungai yang menjadi urat nadi logistik tambang.
Kondisi itu menambah tekanan pada rantai pasok komoditas dari area tambang menuju pelabuhan maupun mother vessel. Bagi industri asuransi, gangguan ini bukan sekadar soal keterlambatan, melainkan perubahan profil risiko yang harus dihitung ulang.
Kapasitas Tongkang Menyusut di Tiga Sungai Utama
Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia (Asei) Dody Dalimunthe menyebut penurunan muka air paling terasa di Sungai Barito, Mahakam, dan Kapuas. Ketiga jalur itu selama ini menjadi bagian tetap dari rantai logistik pengangkutan batubara.
"Penurunan muka air di Sungai Barito, Mahakam dan Kapuas menyebabkan tongkang tidak dapat beroperasi dengan kapasitas normal. Bahkan, pada beberapa titik, tongkang harus mengurangi muatan untuk menghindari risiko kandas," ujar Dody kepada Kontan.
Berkurangnya kapasitas angkut berdampak langsung pada kecepatan pengiriman. Batubara berpotensi lebih lama tertahan di stockpile, tongkang, area labuh jangkar, hingga titik alih muat.
Dua Sisi Risiko yang Harus Dipisahkan
Dody memandang surutnya muka air dari dua sudut berbeda, yakni risiko terhadap barang dan kelancaran logistik. Dari sisi barang, masa penyimpanan dan pengangkutan yang lebih panjang memperbesar eksposur terhadap kerusakan, kontaminasi, wet damage, hingga kehilangan.
Namun, apakah kondisi tersebut berujung pada klaim tetap bergantung pada cakupan dan ketentuan masing-masing polis. Dari sisi logistik, keterlambatan pengiriman, penurunan volume angkutan, dan kenaikan biaya logistik juga tidak otomatis menjadi tanggungan asuransi.
"Dasarnya harus dilihat kembali merujuk pada perils insured, exclusions, warranty, dan ketentuan delay dalam masing-masing polis," jelas Dody.
Underwriting Kini Hitung Faktor Lingkungan
Asei menerapkan pendekatan preventive risk management dengan memantau wilayah dan jalur transportasi yang bergantung pada kondisi muka air sungai. Dalam proses underwriting, perusahaan mempertimbangkan rute pengiriman, jenis komoditas, moda transportasi, kapasitas tongkang, titik transshipment, hingga karakteristik risiko tiap wilayah.
Pendekatan itu diperlukan agar penetapan harga premi serta syarat dan ketentuan polis sesuai profil risiko aktual. Tertanggung juga didorong menyiapkan rencana kontingensi saat sungai tidak memungkinkan pengangkutan normal.
Langkah mitigasi dapat berupa pengurangan draft atau volume muatan, pemakaian jalur alternatif, penyesuaian jadwal pengiriman, hingga pengalihan sebagian volume ke moda transportasi darat bila memungkinkan.
Koordinator Lintas Pihak Jadi Kunci
Koordinasi antara perusahaan asuransi, broker, tertanggung, surveyor, dan reinsurer diperlukan agar respons terhadap perubahan kondisi lapangan berjalan lebih cepat. Dody menilai fenomena ini sebagai bagian dari meningkatnya risiko climate-related logistics disruption.
Dengan gangguan logistik yang kian sering dipicu cuaca, bisnis asuransi marine cargo dinilai perlu bersandar pada pendekatan risk-based underwriting. Penilaian risiko tidak cukup hanya melihat nilai barang yang diangkut, tetapi juga kondisi jalur distribusi dan faktor yang memengaruhi perjalanan komoditas.
Bagi pemilik kargo dan operator tongkang, pesan praktisnya jelas: kesepakatan polis lama belum tentu menutup kerugian akibat sungai surut. Perlu pengecekan ulang klausul delay, warranty, dan pengecualian sebelum musim kemarau berikutnya tiba.