Lee Jae Myung Tolak Permintaan Trump, Tak Kirim Tentara ke Iran

Lee Jae Myung Tolak Permintaan Trump, Tak Kirim Tentara ke Iran

KANALEKONOMI.ID — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan negaranya tidak akan mengirim pasukan ke Iran, menolak permintaan langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penolakan itu disampaikan Lee di tengah tekanan Washington agar sekutu-sekutu lamanya ikut menanggung beban konflik di Timur Tengah. Sikap Seoul menandai friksi terbuka antara dua negara yang selama puluhan tahun terikat aliansi pertahanan.

Pernyataan Lee muncul setelah Trump berulang kali menuntut "bantuan kecil" dari Korea Selatan. Menurut laporan yang beredar, permintaan itu disampaikan langsung dalam komunikasi antara kedua pemimpin. Lee tidak memberi ruang tafsir ganda soal posisi negaranya.

Alasan Seoul Menolak Kirim Pasukan

Korea Selatan menilai keterlibatan militer di Iran bukan kepentingan nasionalnya. Seoul juga menghadapi risiko keamanan langsung dari Korea Utara yang tak pernah surut. Mengirim tentara ke wilayah konflik jauh berarti menarik sumber daya dari lini pertahanan utama di Semenanjung Korea.

Posisi ini konsisten dengan garis politik luar negeri Lee yang menekankan otonomi strategis. Ia berulang kali menyatakan Seoul tidak otomatis mengikuti setiap permintaan Washington.

Tekanan Trump ke Sekutu Lama

Trump menuntut kontribusi lebih besar dari negara-negara sekutu, termasuk Korea Selatan dan Jepang. Tuntutan itu mencakup biaya penempatan pasukan AS di wilayah mereka hingga dukungan operasi militer di luar kawasan. Bagi Washington, beban konflik harus dibagi.

Seoul dan Washington terikat Perjanjian Pertahanan Bersama sejak 1953. Sekitar 28.500 personel militer AS masih ditempatkan di Korea Selatan hingga kini.

"Kami tidak akan mengirim pasukan ke Iran," kata Lee, seperti dikutip dari pernyataannya. Ia menambahkan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kepentingan nasional secara menyeluruh.

Dampak ke Aliansi AS-Korea Selatan

Penolakan Lee bisa memperkeruh hubungan bilateral yang sudah diwarnai ketegangan soal biaya pertahanan. Washington berkepentingan menjaga soliditas sekutu di Asia Timur menghadapi China dan Korea Utara. Namun Seoul tidak ingin terseret konflik yang tidak menyangkut wilayahnya.

Pemerintah Korea Selatan belum memberi keterangan resmi soal kemungkinan pembalasan dari Washington. Pengamat menilai Trump dapat menekan Seoul lewat isu biaya penempatan pasukan atau tarif dagang.

Keputusan Lee juga dipantau negara-negara sekutu AS lain di kawasan. Jepang, Australia, dan negara NATO menghadapi tekanan serupa untuk menambah kontribusi militer. Jika Seoul bertahan, tekanan itu bisa menguat ke arah mereka.

Posisi Indonesia dan Kawasan

Indonesia tidak terlibat langsung dalam permintaan militer AS ke Korea Selatan. Namun ketegangan di Timur Tengah tetap berdampak pada harga minyak dan jalur pelayaran yang dilalui kapal-kapal niaga. Jakarta secara konsisten mendorong penyelesaian konflik lewat jalur diplomatik.

Perkembangan berikutnya bergantung pada respons Washington atas penolakan Seoul. Belum ada jadwal pertemuan lanjutan antara kedua pemimpin yang diumumkan secara resmi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index