Bank Sentral Iran Izinkan Eksportir Terima Bitcoin dan USDT Mulai 10 September 2026

Bank Sentral Iran Izinkan Eksportir Terima Bitcoin dan USDT Mulai 10 September 2026

KANALEKONOMI.ID — Bank Sentral Iran membuka jalur pembayaran ekspor menggunakan aset kripto seperti Bitcoin dan Tether (USDT) mulai Kamis (10/9/2026). Kebijakan ini diambil karena sanksi Amerika Serikat memutus akses lembaga keuangan Iran dari jaringan SWIFT dan sistem pembayaran global.

Bank Sentral Iran resmi memperbolehkan eksportir memulangkan hasil penjualan luar negeri dalam bentuk aset kripto. Langkah tersebut menjadi dasar hukum bagi transaksi digital yang sebelumnya berjalan secara informal di kalangan pelaku usaha Iran.

Sanksi internasional yang dipimpin Amerika Serikat telah memblokir akses lembaga keuangan Iran ke jaringan SWIFT. Akibatnya, eksportir kesulitan menerima pembayaran dari pembeli luar negeri, terutama di sektor minyak dan produk petrokimia.

Mengapa SWIFT Jadi Persoalan Utama

SWIFT adalah jaringan pesan antarbank yang menjadi tulang punggung pembayaran lintas negara. Tanpa akses ke jaringan itu, bank Iran tidak bisa memproses transfer valuta asing secara normal.

Pemerintah Iran berupaya agar penerimaan dari pasar luar negeri tetap bisa dialirkan kembali ke perekonomian domestik. Jalur pembayaran alternatif lewat aset digital dipilih karena tidak bergantung pada perbankan Amerika Serikat.

Tether (USDT) dan Bitcoin Punya Karakter Berbeda

Tether atau USDT dipandang strategis karena nilainya dipatok terhadap dolar AS. Penggunaannya juga tidak memerlukan akses langsung ke sistem perbankan Amerika Serikat.

Aset digital tersebut banyak dipakai di negara-negara yang menghadapi keterbatasan likuiditas tunai. Namun, risikonya tetap ada: alamat dompet digital bisa diblokir sepihak oleh perusahaan pengembang jika terdeteksi melanggar regulasi AS.

Bitcoin memiliki karakter berbeda karena tidak punya penerbit terpusat. Meski demikian, harganya cenderung berfluktuasi sehingga kurang ideal sebagai alat pembayaran yang butuh nilai stabil.

Apa Dampaknya bagi Pasar Kripto Global

Kebijakan Iran menambah daftar panjang negara yang memakai aset kripto sebagai jalur transaksi lintas batas. Langkah ini berpotensi menarik perhatian regulator internasional terhadap pengawasan pengembang stablecoin dan bursa kripto.

Bagi pelaku pasar, sinyal yang perlu dicermati adalah meningkatnya tekanan pengawasan atas stablecoin. Penerbit USDT menghadapi dilema antara mematuhi regulasi AS dan melayani pengguna di yurisdiksi yang tersanksi.

Posisi Iran di Tengah Tekanan Ekonomi

Iran telah lama mencari cara mempertahankan arus devisa di tengah pembatasan perbankan. Langkah ini memperlihatkan bahwa aset kripto makin dipertimbangkan sebagai instrumen pembayaran resmi, bukan sekadar spekulasi.

Perubahan regulasi tersebut juga membuka ruang diskusi soal seberapa efektif sanksi ekonomi ketika ada jalur pembayaran alternatif berbasis blockchain. Pengawasan terhadap bursa kripto internasional diprediksi menjadi isu panas berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index