KANALEKONOMI.ID — Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menyatakan sudah waktunya membentuk Panitia Kerja untuk mengusut kecelakaan KMP Virgo Transport 8 dan memeriksa sistem keselamatan pelayaran nasional secara menyeluruh. Rencana itu muncul setelah serangkaian insiden kapal penumpang sepanjang 2026 menelan korban jiwa dan meninggalkan puluhan orang hilang.
Lasarus menyampaikan rencana pembentukan Panja tersebut saat dihubungi Bisnis pada Selasa (15/9/2026). Komisi V juga berencana memanggil sejumlah pihak di Kementerian Perhubungan, mulai dari Dirjen Perhubungan Laut hingga Basarnas, dalam waktu dekat.
Dorongan evaluasi menyeluruh muncul karena kecelakaan kapal Ro-Ro dinilai terus berulang. Menurut Lasarus, pola itu menandakan pengawasan keselamatan pelayaran yang menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Perhubungan Laut belum berjalan baik.
"Menurut saya perlu sih, sudah waktunya untuk kita bentuk eh Panja ya, Panitia Kerja ya. Untuk kita periksa secara menyeluruh nih sistem keselamatan dan keaman... eh... apa namanya, pelayaran di Indonesia ini secara menyeluruh," kata Lasarus.
Virgo Transport 8 Jadi Insiden dengan Korban Terbanyak
KMP Virgo Transport 8 terbalik dan tenggelam di Laut Jawa sekitar perairan Masalembo pada 13 September 2026. Kapal rute Surabaya–Banjarmasin itu mengangkut 243 orang, terdiri atas 213 penumpang dan 30 awak.
Data pencarian terbaru mencatat 108 orang ditemukan selamat, enam orang meninggal dunia, dan 129 orang masih dicari. Jumlah korban berpotensi berubah seiring operasi SAR yang masih berlangsung.
Dua Kebakaran Kapal di Agustus 2026
Insiden lain terjadi pada KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan utara Pulau Sapudi, Sumenep, Jawa Timur, pada 2 Agustus 2026. Kapal itu membawa 271 orang, terdiri atas 232 penumpang dan 39 awak.
Laporan Basarnas pada hari kejadian menyebut 236 orang telah dievakuasi, dengan 231 selamat dan lima meninggal dunia. Data 35 orang lainnya masih dalam proses pencarian dan pendataan saat laporan diterbitkan.
KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok pada 12 Agustus 2026. Basarnas mencatat 217 orang dalam rangkaian data korban, dengan 212 selamat, satu meninggal dunia, dan empat masih hilang.
Manifes Penumpang Jadi Sorotan
Kasus KMP Putri Yasmin memunculkan persoalan akurasi manifes penumpang. Basarnas menemukan perbedaan antara jumlah orang yang tercatat di manifes dan jumlah yang berhasil dievakuasi.
Temuan itu menjadi salah satu aspek yang masuk dalam evaluasi keselamatan pelayaran. Akurasi manifes krusial karena menentukan skala operasi pencarian dan pendataan korban di lapangan.
Regulasi Lengkap, Implementasi Jadi Celah
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai sistem keselamatan pelayaran nasional berada di tahap transisi dengan ketimpangan cukup lebar.
Dari sisi regulasi, infrastruktur SAR, hingga keterlibatan dalam konvensi internasional seperti IMO dan GMDSS, Indonesia dinilai sudah punya kerangka cukup lengkap. Persoalan justru muncul pada implementasi dan konsistensi di lapangan yang masih menyisakan celah mendasar.
DPR sebelumnya juga meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi keselamatan kapal Ro-Ro saat membahas insiden kapal tenggelam di Selat Madura dan Padangbai, Bali. Permintaan serupa kini menguat lagi setelah rangkaian kecelakaan sepanjang 2026.